Minyak Tembus US$115 per Barel, Restoran-Mal di Mesir Tutup Lebih Awal

CNN Indonesia
Senin, 30 Mar 2026 17:50 WIB
Kenaikan harga bahan bakar domestik yang telah diterapkan Mesir sebelumnya hanya mampu menutup sepertiga dari lonjakan biaya harga minyak saat ini. Ilustrasi (AFP/KHALED DESOUKI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Mesir mulai menerapkan langkah penghematan energi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly mengatakan kebijakan ini berlaku selama satu bulan untuk menekan beban impor energi yang melonjak tajam.

"Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengurangi dampak kenaikan biaya impor energi akibat tingginya harga minyak global," ujar Madbouly dalam konferensi pers, Sabtu (28/3), melansir situs Anadolu Agency.

Kebijakan tersebut mencakup penutupan lebih awal pusat aktivitas publik seperti toko, restoran, pusat perbelanjaan, bioskop, teater, dan gedung pernikahan pada pukul 21.00 waktu setempat. Khusus Kamis dan Jumat, jam operasional diperpanjang hingga pukul 22.00.

Selain itu, pemerintah memangkas penerangan jalan dan lampu iklan hingga 50 persen, serta mengurangi alokasi bahan bakar kendaraan pemerintah sebesar 30 persen. Kawasan pemerintahan di ibu kota administratif baru juga ditutup lebih awal pada pukul 18.00.

Pemerintah turut memperlambat proyek-proyek nasional besar yang menggunakan banyak bahan bakar diesel selama dua bulan, serta menerapkan kerja jarak jauh setiap Minggu mulai 1 April.

Meski demikian, sejumlah sektor dikecualikan dari kebijakan ini, seperti apotek, toko bahan pokok, serta fasilitas pariwisata di sepanjang Sungai Nil di Kairo dan Giza, serta destinasi wisata di Sinai Selatan, Luxor, Aswan, Hurghada, dan Marsa Alam.

Langkah penghematan ini diambil setelah tagihan impor energi Mesir melonjak dari US$1,2 miliar pada Januari menjadi US$2,5 miliar pada Maret. Madbouly menyebut kenaikan harga bahan bakar domestik yang telah diterapkan sebelumnya hanya mampu menutup sekitar sepertiga dari lonjakan biaya tersebut.

Sementara itu, harga minyak dunia terus meroket seiring meluasnya konflik di Timur Tengah. Per Senin (30/3), harga minyak mentah Brent tercatat naik ke US$115,66 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$102,56 per barel.

Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan energi global, termasuk pembatasan pelayaran di Selat Hormuz serta meluasnya konflik ke kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb-jalur vital distribusi minyak dunia.

Lonjakan harga minyak bahkan tercatat mencapai 59 persen sepanjang bulan ini, menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah dan melampaui lonjakan saat Perang Teluk 1990.

Di tengah kondisi tersebut, berbagai negara mulai mengambil langkah antisipatif untuk menahan dampak terhadap ekonomi domestik, termasuk penghematan energi seperti yang dilakukan Mesir.

Pantauan di ibu kota Kairo menunjukkan implementasi kebijakan mulai berjalan. Sejumlah jalan tampak lebih gelap akibat penutupan toko dan restoran, sementara papan reklame di beberapa titik utama juga tidak lagi menyala.

Kondisi ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi negara-negara importir energi di tengah lonjakan harga minyak global dan ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.

(lau/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK