ESDM Ungkap 59 Persen Kebutuhan Bensin RI Dipenuhi oleh Impor

CNN Indonesia
Kamis, 09 Apr 2026 08:36 WIB
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pemenuhan kebutuhan bensin Indonesia masih didominasi impor. Ilustrasi. (REUTERS/Abdul Saboor).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pemenuhan kebutuhan bensin Indonesia masih didominasi impor.

Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan pada 2025 impor bensin mencapai 60,18 persen dari kebutuhan. Sementara, pada 2026 porsi impor sedikit turun, tetapi tetap dominan.

"Pada tahun 2026 impor minyak bensin sebesar 59 persen dari kebutuhan," katanya dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4).

Ia menjelaskan kebutuhan minyak bensin nasional pada 2025 mencapai 100.986 kiloliter per hari. Pada 2026 hingga Februari, kebutuhan sebesar 99.661 kiloliter per hari.

Jika dirinci berdasarkan jenisnya, kebutuhan bensin subsidi atau jenis JBKP pada 2025 mencapai 76.932 kiloliter per hari. Angka tersebut turun menjadi 74.407 kiloliter per hari pada 2026 hingga Februari.

Sementara itu, kebutuhan bensin nonsubsidi atau JBU pada 2025 sebesar 24.055 kiloliter per hari. Pada 2026 hingga Februari, kebutuhannya meningkat menjadi 25.254 kiloliter per hari.

Rizwi juga mengungkap impor bensin Indonesia masih didominasi pasokan dari Singapura dan Malaysia.

Per 1 April 2026, Singapura menjadi pemasok terbesar dengan porsi yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2025 impor bensin dari Singapura mencapai 63 persen, lalu naik menjadi 64,23 persen pada 1 April 2026.

Malaysia menjadi pemasok terbesar kedua, tetapi porsinya turun dari 33,14 persen pada 2025 menjadi 27,18 persen pada 2026 pada periode yang sama.

Selain itu, impor dari Oman meningkat signifikan dari 1,05 persen pada 2025 menjadi 5,55 persen pada 2026.

Pasokan dari Uni Emirat Arab juga bertambah dari 0,72 persen menjadi 3,03 persen pada periode yang sama.

(dhz/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK