Mengapa IHSG Terus Bertenaga saat Rupiah Loyo?
Awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.500 pada perdagangan Senin (13/4) sore. Indeks saham menguat 41,69 poin atau naik 0,56 persen dari perdagangan sebelumnya.
Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp20,44 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 42,50 miliar saham. Adapun sebanyak 397 saham menguat, 264 terkoreksi, dan 156 stagnan.
Tren kenaikan terus berlanjut pada perdagangan Selasa (14/4) sore, saat IHSG ditutup di level 7.675 menguat 175,76 poin atau naik 2,34 persen dari perdagangan sebelumnya.
Saat itu, investor melakukan transaksi sebesar Rp24,75 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan 52,99 miliar saham. Adapun sebanyak 548 saham menguat, 151 terkoreksi, dan 119 stagnan.
Namun, IHSG justru merah di level 7.623 pada penutupan Rabu (15/4) sore, turun 52,37 poin atau minus 0,68 persen dari perdagangan sebelumnya. Meski begitu, indeks saham masih berada di level yang lebih baik dibandingkan pada penutupan perdagangan Senin (13/4).
Investor melakukan transaksi sebesar Rp22,59 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 51,41 miliar saham. Pada penutupan kali ini, 380 saham menguat, 292 merah, dan 149 stagnan.
Sementara itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung melemah sejak akhir pekan lalu dan terus menyentuh angka terlemah baru sepanjang sejarah sejak krisis moneter 1998.
Mata Uang Garuda pertama kali sentuh level terlemah sepanjang sejarah pada Jumat (10/4) sore di level Rp17.104 per dolar AS. Angka tersebut melemah 14 poin atau 0,08 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pelemahan berlanjut, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.105 per dolar AS pada Senin (13/4) sore, melemah 1 poin atau 0,01 persen dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.122 per dolar AS.
Kemudian, pada Selasa (14/4) sore, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.127 per dolar AS, melemah 22 poin atau 0,13 persen dari perdagangan sebelumnya. Adapun kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.135 per dolar AS.
Lihat Juga : |
Pelemahan rupiah berlanjut dan semakin dalam, yakni Rp17.143 per dolar AS pada Rabu (15/4) sore. Rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen dari perdagangan sebelumnya. Berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.141 per dolar AS.
Lantas, bagaimana IHSG bisa terus bertenaga saat rupiah terus loyo?
Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi menilai penguatan IHSG di tengah tekanan nilai tukar rupiah ditopang sentimen positif dari global hingga kinerja sektor komoditas domestik.
Ibrahim menyampaikan pertemuan pemerintah Indonesia dengan pengusaha di Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu katalis utama yang mendorong optimisme investor.
"Jadi pemerintah akan memberikan informasi bahwa investasi di Indonesia itu aman dan diamini oleh pengusaha-pengusaha dari Amerika. Jadi informasi ini sebenarnya membuat apa, membuat pasar kembali bergairah," ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).
Ia mengatakan peningkatan pendapatan ekspor komoditas juga menjadi penopang penguatan pasar saham. Penguatan indeks dolar dinilai turut menguntungkan perusahaan-perusahaan berbasis komoditas seperti tambang, energi, dan agrikultur.
"Nah, penguatan indeks dolar ini berdampak positif juga terhadap perusahaan-perusahaan komoditas tambang, baik tambang, energi, maupun agrikultur di Indonesia. Sehingga ini salah satu yang menopang kenaikan IHSG," terangnya.
Kemudian dari sisi global, Ibrahim mengungkapkan pelaku pasar juga menanti perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya potensi pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait gencatan senjata.
"Kemarin itu kan yang tidak mendapatkan satu persetujuan itu adalah tentang pengayaan uranium. Nah, ini di hari Sabtu (atau) Minggu akan bertemu kembali untuk membahas masalah pengayaan uranium. Kalau seandainya ini deal, kemungkinan besar akan terjadi gencatan senjata dua minggu antara AS, kemudian Israel, Iran, dan Lebanon," kata Ibrahim.
Selain itu, faktor lainnya adalah soal revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh IMF dari semula 5,1 persen menjadi 5 persen dinilai masih mencerminkan fundamental ekonomi yang solid.
"Artinya apa? pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di angka 5 persen, artinya masih cukup baguslah untuk para pengusaha-pengusaha asing yang menginvestasikan dana di Indonesia. Itu yang membuat IHSG kembali mengalami kenaikan," ujarnya.
Di sisi lain, Ibrahim menilai pelemahan rupiah sebagai hal wajar di tengah kondisi global saat ini. Ia menyebut tekanan berasal dari faktor geopolitik, tingginya harga minyak, serta meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor.
"Di mana-mana kalau IHSG naik, ya pasti rupiah melemah, itu sudah trennya ya. Kalau pelemahan mata uang rupiah karena masalah geopolitik, kemudian harga minyak yang masih tinggi. Berarti apa? kebutuhan dolar kita kan cukup besar," ungkap Ibrahim.