Tak Hanya Faktor Lebaran, Apa Rahasia Ekonomi RI Melesat 5,61 Persen?

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 07:57 WIB
Analis menilai capaian pertumbuhan ekonomi tinggi menempatkan Indonesia jadi salah satu titik terang di tengah ketidakpastian ekonomi global. (FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini sebetulnya sangat tinggi, namun banyak masyarakat masih mempertanyakan data tersebut.

Sebagian masih meragukan dari mana sumber data tersebut, mengingat hal itu tidak mencerminkan kondisi di lapangan saat ini.

Dibandingkan dengan beberapa negara di Asia, perekonomian Indonesia memang tumbuh lebih tinggi di kuartal I-2026. Misalnya China tumbuh sebesar 5 persen, Malaysia 5,3 persen, Korea Selatan sebesar 3,6 persen, dan Singapura 4,6 persen, hanya kalah dari Vietnam yang tumbuh 7,8 persen.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai capaian pertumbuhan yang tinggi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik. Kendati, perlu dilihat secara lebih kritis.

Ia menekankan pentingnya membedakan apakah pertumbuhan ini bersifat struktural atau sekadar dorongan jangka pendek.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan menempatkan Indonesia sebagai salah satu bright spot di tengah ketidakpastian geopolitik global," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Namun, Ronny mengingatkan bahwa capaian tersebut belum tentu mencerminkan penguatan fundamental ekonomi Tanah Air. Pasalnya, secara kuartalan (qtq), ekonomi dalam negeri justru mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen. Hal dinilai menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga momentum pertumbuhan di luar faktor musiman.

Menurut Ronny, pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini sangat bergantung pada dua pilar utama, yaitu konsumsi rumah tangga dan lonjakan belanja pemerintah.

Berdasarkan data BPS, konsumsi rumah tangga sebagai kontributor utama perekonomian berhasil tumbuh 5,52 persen yang ditopang oleh momentum Ramadan dan Idulfitri seperti pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) hingga bonus musiman lainnya.

Ia menilai fenomena ini lebih bersifat sementara dibandingkan struktural. "Pertumbuhan ini didorong oleh pergerakan Ramadan dan Idulfitri yang menciptakan lonjakan permintaan jangka pendek," imbuhnya.

Selain konsumsi, belanja pemerintah juga menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan dengan peningkatan 21,81 persen. Realisasi belanja negara melonjak tajam pada awal tahun melalui strategi percepatan pengeluaran.

"Belanja pemerintah mencatat pertumbuhan luar biasa sebesar 21,81 persen, bahkan total belanja negara naik hingga 31,4 persen mencapai Rp815 triliun," katanya.

Tak Hanya Faktor Lebaran, Apa Rahasia Ekonomi RI Melesat 5,61 Persen?


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :