Bos BI soal Intervensi Rupiah Ambrol: Cadangan Devisa Rp2.014 Triliun
Bank Indonesia (BI) menyatakan cadangan devisa Indonesia masih lebih dari cukup untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan saat ini bank sentral memiliki cadangan devisa sebesar US$114 miliar atau sekitar Rp2.014 triliun dengan kurs Rp17.668 per dolar AS.
Perry mengungkap BI telah meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, lindung nilai, maupun forward.
Namun demikian, menurut Perry, jumlah tersebut masih berada di atas standar Assessing Reserve Adequacy (ARA) yang ditetapkan Dana Moneter Internasional (IMF).
"Jadi, kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5).
"(Cadangan devisa) masih di atas US$100 miliar, masih lebih dari cukup, sehingga dosis intervensinya kami naikkan," jelasnya.
Ia melanjutkan bahwa intervensi di pasar valuta asing merupakan salah satu langkah BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain intervensi pasar, BI juga meningkatkan tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,41 persen untuk mendukung arus masuk modal asing (capital inflow).
Lihat Juga : |
Menurut Perry, kebijakan tersebut dinilai cukup efektif, tercermin dari arus masuk modal bersih melalui SRBI yang mencapai US$105,16 miliar secara tahun kalender hingga 18 Mei 2026.
"Kenapa kami meningkatkan bunga SRBI? Supaya net inflow masih terjadi. Alhamdulillah itu mencatat inflow, sehingga menambah pasokan valas di dalam negeri," tambahnya.
Selain itu, Perry mengatakan BI juga telah memperluas transaksi yuan-rupiah di pasar domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Bank sentral juga akan menurunkan batas pembelian dolar AS tunai di pasar domestik tanpa underlying dari sebelumnya US$50 ribu per pelaku per bulan menjadi US$25 ribu mulai Juni mendatang.
"Hal ini kami lakukan supaya yang beli dolar AS adalah yang betul-betul membutuhkan," ujar Perry.
Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.668 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5) sore. Mata uang Garuda melemah 71 poin atau 0,40 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,21 persen, dolar Singapura terapresiasi 0,12 persen, dan won Korea Selatan naik 0,11 persen.
Sementara itu, peso Filipina melemah 0,01 persen, yen Jepang turun 0,09 persen, serta ringgit Malaysia terdepresiasi 0,52 persen. Adapun dolar Hong Kong bergerak stabil terhadap dolar AS.
Mata uang utama negara maju juga bergerak variatif. Euro Eropa naik 0,10 persen, poundsterling Inggris menguat 0,31 persen, dolar Australia terapresiasi 0,10 persen, dolar Kanada naik 0,09 persen, serta franc Swiss menguat 0,25 persen terhadap dolar AS.
(dhz/sfr)