3 Kapal Tanker Raksasa Berhasil Keluar Selat Hormuz, Ada Tujuan RI?

CNN Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026 13:41 WIB
Tiga kapal supertanker berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (20/5). Kapal tanker raksasa itu memuat minyak mentah menuju pasar Asia. (Foto: Getty Images via AFP/JUSTIN SULLIVAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tiga kapal supertanker berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (20/5). Kapal tanker raksasa itu memuat minyak mentah menuju pasar Asia.

Ketiga supertanker itu memuat 6 juta barel minyak mentah. Setelah menunggu lebih dari dua bulan sejak gangguan di Selat Hormuz, muatan ketiga supertanker akhirnya bisa dikirim ke negara-negara Asia. Menurut data pelayaran LSEG dan Kpler, satu kapal lainnya sedang memasuki Selat Hormuz.

Ketiga kapal tanker yang berhasil melintas Hormuz termasuk segelintir supertanker yang berhasil keluar dari Teluk pada Mei ini, melalui jalur transit yang diperintahkan Iran untuk digunakan kapal-kapal.

Namun, di antara ketiga supertanker itu tak ada yang tujuannya Indonesia. Kapal yang berhasil keluar Selat Hormuz adalah Very Large Crude Carrier (VLCC) berbendera Korea Selatan Universal Winner.

VLCC Korsel ini membawa 2 juta barel minyak mentah Kuwait yang dimuat pada 4 Maret. Data Kpler menunjukkan kapal tanker itu menuju Ulsan, lokasi kilang terbesar Korsel milik SK Energy, untuk membongkar muatan pada 9 Juni.

Sedangkan dua supertanker lainnya yang berhasil melintas Selat Hormuz mengangkut muatan menuju China.

Sekitar 10 kapal melintasi selat dalam 24 jam terakhir, termasuk kapal kargo kecil dan kapal tanker kimia yang memasuki Teluk, menurut data Kpler dan analisis satelit dari SynMax.

Kemarin, asosiasi industri pelayaran mengeluarkan panduan baru bagi kapal yang ingin berlayar melalui Selat Hormuz. Panduan itu menyoroti berbagai bahaya navigasi, termasuk risiko serangan, ancaman drone dan ranjau, kemacetan lalu lintas yang tidak menentu, hingga berkurangnya pengawasan militer.

"Ratusan kapal masih belum dapat melintasi Selat Hormuz dan jika kondisi navigasi kembali normal, pergerakan seluruh kapal tersebut di dalam selat bisa menjadi bahaya navigasi yang signifikan," kata asosiasi tersebut, dikutip Reuters, Rabu (21/5).

Perang Iran melawan agresi AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari, telah memangkas drastis pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan energi dunia.

Sebelum perang dimulai, lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz rata-rata mencapai 125 hingga 140 pelayaran per hari.

Sementara beberapa hari terakhir, lalu lintas pelayaran rata-rata hanya sekitar 10 kapal masuk dan keluar selat setiap hari, termasuk kapal kargo, kapal tanker kimia dan gas petroleum cair. Kapal tanker minyak mentah masih menjadi bagian kecil dari total volume pelayaran, menurut analisis Reuters berdasarkan data pelacakan kapal.

Saat ini, sekitar 20 ribu pelaut masih terjebak di dalam kawasan Teluk di atas ratusan kapal.

(pta/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK