Jibaku Bertahan di Blok M, dari Pijat Refleksi hingga Lapak Aksesori
Namanya AJS.
Entah itu nama asli, singkatan, atau nama yang sengaja ia pilih untuk menjaga jarak dengan orang baru. Ia tak menjelaskan. Pria asal Sukabumi, Jawa Barat, itu sudah berjualan di sudut tempat tersebut sejak 2015.
Lapaknya kecil, tapi penuh sesak. Seolah setiap jengkal ruang diisi barang dagangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya aksesori ponsel seperti casing dan charger yang mudah terlihat, di lapaknya tertata rapih payung lipat dengan berbagai pilihan warna, kipas kecil portable, mainan kecil, masker, cincin tasbih digita, hingga pouch transparan dengan varian warna berbeda.
Malam itu AJS mengenakan kaus biru, celana hitam, dan jaket denim abu-abu. Ia tak banyak bicara. Nada suaranya pelan. Jawabannya singkat, tapi semua pertanyaan dijawab dengan tegas.
Lihat Juga :EDUKASI KEUANGAN Tips Jitu Hindari Jebakan Pinjol dan Paylater Jelang Lebaran |
Saat itu saya sedang mencari masker untuk dipakai naik motor. Ia menunjukkan beberapa pilihan. Ada masker yang dibungkus plastik seharga Rp10 ribu. Ada juga masker dalam kemasan kotak, dijual Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
"Bedanya apa?" tanya saya.
"Ini lebih lebar," jawabnya singkat sambil menunjuk salah satu kotak.
"Kalau buat muka saya mending yang mana?"
AJS tersenyum kecil.
"Aduh... ya terserah."
Saya akhirnya memilih masker kotak seharga Rp25 ribu.
Dari obrolan singkat itu terlihat jam terbang AJS sebagai pedagang sudah tinggi. Ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan cukup menjawab seperlunya, dan kapan membiarkan pembeli memutuskan sendiri.
Ia menceritakan masker yang saya beli dulu pernah menjadi barang mahal ketika pandemi Covid-19. Kata dia, dulu harganya pernah sampai Rp150 ribu. Ini karena barang susah dicari, di saat yang sama permintaan melonjak.
AJS sudah berjualan di sana sejak 2015. Sebelas tahun di titik yang sama, menjual barang yang kurang lebih serupa. Alasannya sederhana: keluarga. Ada istri dan dua anak yang harus diberi makan. Ada kebutuhan dapur yang harus terus berjalan.
Lebih dari satu dekade lalu, kata AJS, area transisi di Blok M ini jauh lebih padat oleh pedagang. Lapak berdempetan. Di bagian tengah lebih ramai.
Lalu pandemi datang dan mengubah semuanya. Ia mengatakan banyak pedagang yang gulung tikar.
Ketika situasi mulai pulih, tantangan baru datang. Orang berubah cara belanja. Semakin banyak yang memilih membeli secara online. Barang datang ke rumah tanpa harus keluar.
Perubahan kebiasaan itu ikut mengguncang usaha kecil seperti milik AJS. Namun, ia tidak terlihat gentar. Baginya, dagang selalu punya jalannya sendiri.
"Namanya dagang pasti ada aja yang beli," katanya.
Ia tak pernah menghitung barang mana yang paling laris. Menurut dia, semua punya pembeli masing-masing. Kuteks ada yang cari. Mainan kecil ada yang beli. Pouch warna-warni pun ada peminatnya.
Di tengah percakapan, AJS tiba-tiba bangkit dari kursinya.
Seorang pria berjaket merah dengan sandal putih berhenti di depan lapaknya. Pandangannya tertuju pada deretan jepit rambut dan tas pouch kecil transparan yang tergantung di sisi kanan lapak. AJS langsung sigap menghampiri.
Pria itu akhirnya menetapkan pilihannya pada tas pouch. AJS mengambil kantong plastik putih, memasukkan barang itu dengan cekatan.
Namun sebelum transaksi selesai, mata pembeli tertarik pada payung yang diletakkan di bagian paling depan kios. Warnanya beragam.
AJS tampaknya sengaja menaruhnya di posisi paling depan agar mudah terlihat orang yang lewat. Apalagi belakangan Jakarta memang sering diguyur hujan di sore hari.
Pembeli itu akhirnya membawa pulang dua barang sekaligus: pouch dan payung.
Tak lama setelah pelanggan pergi, AJS kembali duduk. Belum sempat benar-benar beristirahat, seorang pedagang lain menghampiri. Ia ingin menukar uang pecahan.
AJS menggeleng menandakan ia tidak punya uang pecahan yang diinginkan.
Beberapa menit kemudian datang lagi pedagang lain dengan keperluan serupa. Lalu, satu lagi.
Malam itu setidaknya empat pedagang mendatanginya untuk menukar uang.
Meski tak bisa membantu karena tidak punya pecahan yang diinginkan, AJS menjawab semuanya dengan ramah. Ia tampaknya memang menjadi salah satu orang yang sering didatangi sesama pedagang untuk hal-hal seperti ini.
Di sela melayani pembeli, AJS juga terlihat gemar mengobrol. Ia beberapa kali bercanda dengan pelanggan. Terdengar tawa kecil di antara transaksi. Tak ada jarak yang kaku antara penjual dan pembeli di kiosnya.
Setelah melayani seorang perempuan yang membeli aksesori rambut, AJS tak langsung kembali duduk. Ia mengambil semacam kemoceng kecil lalu mulai membersihkan barang dagangannya satu per satu.
Ia mengusap casing ponsel di bagian depan, membersihkan plastik pembungkusnya. AJS juga tampak mengibaskan debu di gelang-gelang kecil yang menggantung, merapikan pouch, mengusap barang dagangannya yang tersusun rapih.
AJS seakan ingin setiap barang harus tetap tampak layak dilihat orang yang lewat. Ia tak ingin pembeli menemukan debu di atas dagangannya. Sebab, di tempat seperti itu, barang-barang kecil tak hanya dijual lewat fungsi, tapi juga lewat kesan pertama.
Di Blok M Hub yang terus berubah wajah, mereka menjadi bagian dari yang tetap tinggal. Rohman mengandalkan tenaga dari kedua tangannya, AJS mengandalkan kesabaran di balik lapak kecil berisi benda-benda sederhana.
Mereka menyaksikan zaman berganti, tenant datang dan pergi, tren bergeser, pandemi menghantam, hingga keramaian kembali pulih.
Di tengah semua perubahan itu, tangan Rohman terus memijat, kemoceng AJS terus mengusap debu di dagangannya, dan malam di Blok M terus berjalan seperti biasa.
(sfr) Add
as a preferred source on Google