Harga Minyak Menanjak ke US$95 saat Proses Negosiasi AS-Iran Buram

CNN Indonesia
Selasa, 02 Jun 2026 10:15 WIB
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 17 sen atau 0,18 persen ke level US$91,99 per barel. Ilustrasi (iStock/bomboman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa pekan pada perdagangan Selasa (2/6), di tengah ketidakpastian perkembangan negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta nasib pembukaan kembali Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik tipis 6 sen atau 0,06 persen menjadi US$95,04 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 17 sen atau 0,18 persen ke level US$91,99 per barel.

Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya melonjak lebih dari 5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. Namun, penguatan harga sempat memangkas sebagian kenaikan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan belum mendapat informasi bahwa Iran menghentikan pembicaraan dengan Washington.

Ketidakpastian pasar muncul setelah Trump mengungkapkan negosiasi dengan Iran masih berlangsung. Di sisi lain, kantor berita Tasnim melaporkan Teheran telah menangguhkan perundingan tidak langsung dengan AS.

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan fokus pasar saat ini tertuju pada perkembangan nyata dalam negosiasi AS-Iran, termasuk ancaman Iran terhadap Selat Hormuz dan pergerakan kapal tanker di kawasan tersebut.

"Pasar saat ini fokus pada apakah ada kemajuan konkret atau kemunduran dalam negosiasi AS-Iran, nada dan substansi pernyataan dari kedua pihak, khususnya ancaman Iran terkait Selat Hormuz, serta pergerakan fisik kapal tanker di jalur pelayaran itu," ujar Waterer.

Ia menambahkan status negosiasi kedua negara akan menentukan apakah premi risiko yang saat ini melekat pada harga minyak tetap bertahan atau mulai berkurang.

Di saat yang sama, Lebanon pada Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya deeskalasi terbatas di tengah konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Analis IG Tony Sycamore memperkirakan volatilitas harga minyak masih akan tinggi selama belum ada kepastian terkait proses perdamaian. "Dengan berbagai perkembangan yang terus muncul dari Timur Tengah, harga minyak kemungkinan tetap bergejolak sampai ada bukti yang lebih jelas mengenai kemajuan menuju kesepakatan damai," katanya.

(ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK