Rupiah Nyaris Ambrol ke Rp18 Ribu, Ini Skenario Terburuk versi Analis
Nilai tukar rupiah nyaris kembali menembus level psikologis Rp18 ribu per dolar AS pada perdagangan Selasa (2/6) pagi setelah melemah ke posisi Rp17.879 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai risiko rupiah menembus level Rp18.000 masih terbuka. Namun, pelemahan tidak akan terjadi tanpa sentimen negatif tambahan dari dalam maupun luar negeri.
Analis Mata Uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah memang masih memiliki ruang pelemahan lebih lanjut. Namun, peluang menembus Rp18.000 per dolar AS pada hari ini dinilai belum terlalu besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemungkinan ada, namun tidak besar, masih ada ruang plus 100 poin lebih. Saya berharap tidak akan menembus Rp18 ribu," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/6).
Menurut Lukman, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi dan situasi geopolitik global, terutama konflik yang kembali memanas di Timur Tengah.
Lukman menilai level Rp18.000 bisa saja ditembus dalam waktu dekat apabila sentimen negatif terus bertambah.
"Namun tentunya apabila data-data ekonomi dan situasi geopolitik di Timur Tengah memanas, bisa dalam pekan ini menembus Rp18 ribu," ujarnya.
Senada, pengamat mata uang Ariston Tjendra mengatakan pelemahan rupiah saat ini masih didorong oleh ketidakpastian konflik antara AS dan Iran yang kembali meningkat.
Menurut Ariston, belum tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara telah memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.
"Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujar Ariston.
Selain faktor eksternal, ia menilai tekanan terhadap rupiah juga berasal dari keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik serta meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri.
"Ditambah isu asing keluar dari pasar saham dan juga pasar obligasi Indonesia, permintaan dolar yang tinggi dari repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri," ujarnya.
Ariston menilai peluang rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS masih terbuka apabila terjadi eskalasi baru dalam konflik Timur Tengah.
"Kalau ada eskalasi baru di Timur Tengah ini, rupiah berpotensi makin melemah. Potensi ke Rp18 ribu masih terbuka," katanya.
Meski demikian, ia berharap proses negosiasi damai antara AS dan Iran dapat kembali berjalan sehingga tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk rupiah, bisa mereda.
"Kita lihat prospek negosiasi damai AS-Iran ke depan. Semoga tidak makin panas," ujarnya.
Rupiah sebelumnya berada di level Rp17.879 per dolar AS pada perdagangan Selasa (2/6) pagi. Posisi tersebut melemah 74 poin atau 0,42 persen dibandingkan penutupan sebelumnya dan menjadi salah satu level terlemah rupiah sepanjang tahun ini.
(lau/sfr) Add
as a preferred source on Google