IHSG-Rupiah Kompak Ambruk, Alarm Krisis Kepercayaan Investor Menyala?
Syafruddin menjelaskan dampaknya dapat menjadi jangka panjang jika pemerintah gagal memutus lingkaran negatif antara kurs, arus modal, dan pasar saham.
"Rupiah yang lemah menaikkan biaya impor dan utang valas, lalu menekan laba emiten. IHSG yang turun memperburuk sentimen investor. Sentimen yang memburuk kembali menekan rupiah," pungkasnya.
Di sisi lain, Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi menilai IHSG yang melemah dalam jangka panjang karena sudah terkomplikasi, mulai dari rupiah melemah yang berdampak terhadap inflasi, kemudian neraca perdagangan yang menyusut. Lalu, peringkat kredit Indonesia juga menjadi negatif oleh Moody's.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Intinya di sini adalah tentang kebutuhan dolar yang cukup tinggi. Untuk impor komoditas, terutama adalah minyak mentah, untuk bayar utang. Kemudian pembagian dividen, itu juga menggunakan dolar. Kemudian masyarakat yang berpindah tabungannya dari konvensional ke valuta asing. Yang membuat IHSG ini mengalami penurunan," terang Ibrahim.
Ibrahim mengatakan melemahnya IHSG diperkirakan hingga Indonesia bisa mendapatkan utang baru dari IMF atau Bank Dunia. Namun, ia menggarisbawahi apabila pemerintah melakukan strategi ini maka harus menghapuskan subsidi seperti saat 1998 lalu.
"Pada saat Indonesia membutuhkan utang kemudian minta ke IMF, kan persyaratannya banyak. Salah satunya adalah harus menghilangkan subsidi. Nah, ini yang ditakutkan oleh pemerintah, sehingga pemerintah pun juga serba salah," katanya.
Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P menegaskan yang perlu diwaspadai bukan hanya soal pelemahan rupiah atau IHSG, melainkan apabila pelemahan tersebut berkembang menjadi krisis kepercayaan (confidence crisis). Ia menyebut dalam ekonomi, sentimen sering kali sama pentingnya dengan data fundamental.
Menurutnya, investor saat ini tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan keyakinan. Oleh karena itu, fokus utama pemerintah harus membangun kembali kepercayaan pasar dengan berbagai strategi.
Pertama, memberikan kepastian arah kebijakan ekonomi. Investor sangat sensitif terhadap ketidakpastian regulasi dan perubahan kebijakan yang sulit diprediksi.
Kedua, menjaga kredibilitas fiskal. Pasar perlu diyakinkan bahwa defisit anggaran, pembiayaan program-program prioritas, dan pengelolaan utang tetap berada dalam koridor yang sehat dan berkelanjutan.
Ketiga, mempercepat reformasi struktural yang berdampak langsung terhadap produktivitas, seperti penyederhanaan perizinan, peningkatan kualitas SDM, efisiensi logistik, dan penguatan iklim usaha.
Keempat, menciptakan lebih banyak proyek investasi yang layak secara ekonomi (bankable projects), sehingga investor melihat peluang keuntungan yang riil dan jelas, bukan hanya janji pertumbuhan.
Kelima, memperkuat koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta menjaga kepercayaan pasar keuangan.
"Persoalannya adalah investor global saat ini sedang berada dalam mode sangat selektif atau risk-off. Dalam situasi seperti itu, negara yang mampu menawarkan kombinasi antara stabilitas, kepastian kebijakan, dan prospek keuntungan yang jelas akan lebih cepat memperoleh kembali arus modal," terang Ronny.
"Tantangan Indonesia saat ini bukan kekurangan potensi, tapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi keyakinan investor yang konkret dan terukur," lanjutnya.
(ins) Add
as a preferred source on Google