ANALISIS

IHSG-Rupiah Kompak Ambruk, Alarm Krisis Kepercayaan Investor Menyala?

Muhammad Falah Nafis | CNN Indonesia
Kamis, 04 Jun 2026 07:50 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dollar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Rabu, 5 September 2018.
Bercermin dari kondisi IHSG dan Rupiah saat ini, apakah ekonomi Indonesia sudah tak menarik di mata investor? Atau hal ini murni karena faktor eksternal saja? (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kompak ambruk pada perdagangan Rabu (3/6). IHSG kembali menyentuh level 5.900-an sedangkan rupiah resmi jebol level Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6) pagi.

Mengutip RTI Infokom, IHSG melemah 254,36 poin atau minus 4,11 persen ke level 5.941 pada penutupan Rabu (3/6) sore. Bahkan, IHSG sempat anjlok hampir 5 persen, tepatnya 4,94 persen atau 305,9 poin ke level 5.889 pada penutupan sesi I.

Pada penutupan, investor melakukan transaksi sebesar Rp25,21 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 40,06 miliar saham. Sebanyak 692 saham terkoreksi, 69 menguat, dan 54 stagnan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, nilai tukar rupiah pagi ini resmi tembus level Rp18.000 per dolar AS, usai Rabu (3/6) sore bertengger di level Rp17.966 per dolar AS. Mata uang Garuda pagi hari melemah 76 poin atau 0,43 persen dibandingkan level sebelumnya.

Pelemahan IHSG berbarengan dengan rupiah terhadap dolar AS disinyalir adanya pengaruh faktor eksternal, yakni meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Lantas, apakah ekonomi Indonesia sudah tak menarik di mata investor? Atau hal ini murni karena faktor eksternal saja?

[Gambas:Youtube]

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai ekonomi Indonesia belum kehilangan seluruh daya tarik di mata investor, tetapi pasar sedang meminta kompensasi risiko yang jauh lebih besar.

Menurut Syafruddin, investor masih melihat Indonesia sebagai pasar besar dengan konsumsi domestik kuat, kelas menengah potensial, dan peluang investasi jangka panjang. Meski begitu, ia mengungkapkan masalahnya, yakni daya tarik investor cenderung melemah ketika rupiah terus tertekan, IHSG terkoreksi tajam, dan indeks kepercayaan pasar Indonesia berada pada level rendah.

"Pelemahan ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Yield US Treasury yang masih tinggi, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, harga energi, dan ketegangan geopolitik memang menekan aset negara berkembang," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (3/6).

Syafruddin menjelaskan tekanan Indonesia terlihat lebih dalam karena pelaku pasar juga membaca risiko domestik, yakni stabilitas rupiah rapuh, premi risiko tinggi, sektor finansial melemah, dan komunikasi kebijakan belum cukup meyakinkan.

"Jadi, Indonesia masih menarik secara potensi, tetapi kurang meyakinkan secara risiko. Investor tidak meninggalkan Indonesia karena peluangnya hilang, mereka menahan diri karena harga risiko Indonesia naik," terangnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan kondisi IHSG dan rupiah tertekan berlangsung lama karena pasar tidak hanya merespons satu peristiwa, tetapi membaca akumulasi kelemahan kepercayaan.

"Rupiah yang melemah dalam jangka panjang, IHSG yang jatuh setelah sempat menguat, forward USD/IDR yang mengarah ke atas Rp18.000, serta indeks kepercayaan pasar Indonesia yang rendah menunjukkan masalah persepsi yang sudah bersifat struktural," kata Syafruddin.

Add as a preferred
source on Google
IHSG-Rupiah Kompak Ambruk, Alarm Krisis Kepercayaan Investor Menyala? BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2