Rupiah Menguat ke Rp18.036 per Dolar AS Jumat Sore

CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 15:50 WIB
Nilai tukar rupiah menguat 0,07 persen ke Rp18.036 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6) sore. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.036 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6) sore. Mata uang Garuda menguat 13 poin atau 0,07 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang berada di zona hijau terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,05 persen, Peso Filipina menguat 0,21 persen, serta dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.

Namun, sebagian mata uang Asia lainnya bergerak sebaliknya. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,49 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,51 persen, dan yen Jepang turun 0,05 persen.

Sementara itu, mata uang utama negara maju cenderung bervariasi terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,20 persen, poundsterling Inggris menguat 0,15 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,05 persen. Di sisi lain, dolar Kanada menguat 0,16 persen, sedangkan franc Swiss menguat 0,23 persen.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang mendorong pelemahan dolar AS.

Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang kembali memanas. Meski Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, ketidakpastian tetap tinggi setelah muncul laporan serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain serta operasi militer AS di sekitar Selat Hormuz.

Di saat yang sama, Laporan Ketenagakerjaan AS menjadi sorotan, Nonfarm Payrolls (NFP) diperkirakan menunjukkan peningkatan 85 ribu pekerjaan pada Mei lalu. Sementara, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen selama periode yang sama.

Dari dalam negeri, menurut Ibrahim, sentimen pasar dipengaruhi oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 4,7 persen pada 2026, turun dari 4,8 persen dalam laporan sebelumnya.

OECD menilai kenaikan biaya energi dan ketidakpastian global akan membebani konsumsi rumah tangga serta investasi, seiring pelemahan pasar tenaga kerja domestik.

Di sisi lain, tekanan inflasi mulai meningkat akibat lonjakan harga energi global. OECD memperkirakan inflasi Indonesia naik menjadi 3,4 persen pada 2026 dari sebelumnya 1,9 persen pada 2025.

"Kenaikan tersebut dipicu dampak lanjutan harga energi global terhadap harga domestik, meski pemerintah masih menahan harga BBM subsidi," ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan Senin (8/6) di kisaran Rp18.030 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Adapun pergerakan rupiah untuk sepekan ke depan diperkirakan di rentang Rp17.950 sampai Rp18.250 per dolar AS.

(fln/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK