EDUKASI KEUANGAN

Rupiah Lemas, Apakah Saat Ini Waktu Tepat Investasi Valas?

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 09:00 WIB
Perencana keuangan memberikan sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan sebelum berinvestasi valas di tengah pelemahan rupiah. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah yang terus berada dalam tekanan, bahkan menembus Rp18 ribu per dolar AS, membuat sebagian masyarakat mulai melirik investasi valuta asing (valas).

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak pasar keuangan, dolar AS maupun mata uang asing lainnya kerap dianggap sebagai aset pelindung nilai (safe haven).

Namun, apakah kondisi saat ini menjadi momentum yang tepat untuk masuk ke investasi valas?

Perencana keuangan membagikan tips apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum berinvestasi valas saat ini:

1. Jangan Terburu-buru Masuk Secara Agresif

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menilai saat ini belum menjadi waktu ideal untuk masuk ke instrumen valas secara agresif.

Menurutnya, masih banyak faktor yang membuat pergerakan kurs sulit diprediksi, mulai dari kondisi ekonomi domestik, arah kebijakan fiskal pemerintah, sentimen investor asing terhadap Indonesia, hingga potensi intervensi pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Menurut saya pribadi sih sekarang belum jadi waktu yang tepat buat masuk valas ya apalagi secara agresif. Masih banyak ketidakpastian," ujarnya.

Dandy mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tidak selalu berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, investor tidak seharusnya mengambil keputusan hanya berdasarkan tren pelemahan kurs saat ini.

2. Jika Tetap Ingin Beli, Gunakan Strategi Bertahap

Pandangan berbeda disampaikan Perencana Keuangan Andi Nugroho. Menurutnya, investor masih bisa mulai masuk ke aset valas, tetapi dengan strategi yang lebih terukur.

Ia menyarankan penggunaan metode dollar cost averaging (DCA), yaitu membeli valas sedikit demi sedikit secara berkala dalam jangka waktu tertentu.

Strategi tersebut dapat membantu mengurangi risiko membeli pada harga yang terlalu tinggi sekaligus meredam dampak fluktuasi kurs.

"Masuknya bisa mulai dari sekarang, bisa mulai masuk dengan membeli sedikit demi sedikit secara periodik," katanya.

Dengan cara ini, investor tidak perlu menebak kapan titik tertinggi atau terendah nilai tukar terjadi.

3. Jangan Hanya Koleksi Dolar AS

Banyak investor identik menganggap investasi valas sama dengan membeli dolar AS. Padahal, diversifikasi mata uang juga penting dilakukan.

Andi menyarankan investor tidak menempatkan seluruh dana pada satu mata uang saja. Selain mengurangi risiko, langkah ini juga memberi peluang memperoleh keuntungan dari pergerakan beberapa mata uang sekaligus.

"Berinvestasi jangan hanya di satu mata uang, tapi bisa di dua atau tiga mata uang berbeda," imbuhnya.

Menurutnya, mata uang yang relatif kuat dan stabil seperti dolar Australia, dolar Singapura, dan yen Jepang dapat menjadi alternatif untuk melengkapi portofolio.

Senada, Dandy melihat beberapa mata uang lain yang layak dipertimbangkan bagi investor yang memang ingin memiliki aset valas.

Ia menilai franc Swiss dan dolar Singapura masih menarik karena dikenal memiliki stabilitas yang relatif baik.

Meski demikian, pemilihan mata uang tetap harus disesuaikan dengan tujuan investasi, profil risiko, serta kondisi ekonomi global yang terus berubah.

4. Deposito dan Reksa Dana Pasar Uang Bisa Jadi Alternatif

Bagi investor yang belum yakin mengambil posisi di pasar valas, menunggu perkembangan situasi juga bukan keputusan yang salah.

Dandy justru menyarankan masyarakat untuk mempertahankan likuiditas dan bersikap wait and see hingga terdapat kepastian yang lebih jelas terkait arah ekonomi dan pasar keuangan.

Sebagai alternatif, dana dapat ditempatkan sementara pada instrumen yang lebih konservatif seperti deposito atau reksa dana pasar uang.

"Tapi saran saya, better keep cash dulu wait and see sampai sudah ada kepastian benar. Sebagai alternatif bisa switch ke yang aman dulu seperti deposito atau reksadana pasar uang," katanya.

(sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK