Rupiah Terseret ke Rp18.188 per Dolar AS Sore Ini
Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.188 per dolar AS pada perdagangan Senin (8/6) sore. Mata uang Garuda melemah 152 poin atau 0,84 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang menguat, dipimpin won Korea Selatan yang terapresiasi 1,72 persen. Kemudian yen Jepang naik 0,06 persen, yuan China menguat 0,06 persen, dan dolar Singapura menguat 0,09 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia masih berada di zona merah. Ringgit Malaysia melemah 1,02 persen, peso Filipina terdepresiasi 0,32 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Sementara itu, mata uang utama negara maju juga bergerak beragam. Dolar Australia menguat 0,07 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, euro Eropa melemah 0,03 persen, poundsterling Inggris turun 0,09 persen, dolar Kanada terkoreksi 0,09 persen, dan franc Swiss melemah 0,24 persen.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan pasar.
"Tensi geopolitik kembali memanas setelah serangan Israel di Lebanon dan laporan ledakan di sejumlah wilayah Iran. Kondisi ini mengikis harapan berakhirnya konflik dan mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven," ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com.
Ia menambahkan data ketenagakerjaan AS yang solid turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
"Ekonomi AS menambah 172 ribu lapangan kerja pada Mei, jauh di atas ekspektasi 85 ribu. Data ini memperkuat argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka peluang pengetatan lebih lanjut jika tekanan inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi," ujarnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai rupiah masih tertekan oleh kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan, meningkatnya kebutuhan subsidi energi akibat lonjakan harga minyak dunia, serta penurunan cadangan devisa Indonesia.
"Bank Indonesia mencatat cadangan devisa mencapai US$144,9 miliar atau setara Rp2.590,2 triliun pada akhir Mei 2026. Cadangan devisa tersebut turun dari bulan sebelumnya sebesar US$146,2 miliar," ujarnya.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (9/6).
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah dalam rentang Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS," ujarnya.
(lau/sfr)