Pemilik Bengkel Curhat Harga Oli Naik
Dampak kenaikan harga oli tak hanya terasa di konsumen atau pemilik kendaraan saja, tetapi sejumlah pemilik bengkel kecil juga ikut mengeluh.
Sinaga, salah satu pemilik bengkel sekaligus montir yang membuka usahanya di Depok mengaku mulai resah kehilangan pelanggan apabila ikut menaikkan harga. Namun, apabila tetap menahan harga, maka ia bisa bangkrut.
Apalagi, ia menyebutkan kenaikan harga oli mencapai Rp15 ribu per botol.
"Dari bulan puasa (naik) paling Rp2.000, setelah puasa naik lagi, sekitar Rp15 ribu," ujar Sinaga yang dikutip dari detikOto, Kamis (11/6).
Sinaga mengatakan ia mendapat bocoran dari distributo bahwa kenaikan harga oli masih akan berlanjut. Penyebabnya, karena rupiah yang terus melemah.
"Ini aja kata itunya (distributor) belum final. Bisa geser naik lagi (harganya)," imbuhnya.
Hal yang sama disampaikan oleh Ilyas, salah satu montir bengkel di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Ia menyebutkan harga oli naik paling tinggi dibandingkan komponen lainnya.
"Paling terasa oli, naiknya lumayan," kata Ilyas kepada CNBC Indonesia.
Ilyas menyebutkan biasanya biaya penggantian oli beserta jasa hanya sekitar Rp60 ribu saja. Namun, saat ini nilai tersebut hanya untuk oli tok.
"Sekarang Rp60 ribu cuma harga beli oli dari tokonya, masa saya beli Rp60 ribu saya jual segitu juga, kan ada biasa jasanya. Jadi sekarang patokannya Rp75 ribu," pungkasnya.
(ldy/ins)