7 Cara Kelola Uang saat Suku Bunga Naik dan Rupiah Melemah
Kenaikan suku bunga acuan dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi dua kondisi yang kerap memberi tekanan terhadap keuangan masyarakat.
Dampaknya tak hanya dirasakan pelaku usaha atau investor, tetapi juga rumah tangga yang memiliki cicilan, menggunakan kartu kredit, hingga mengonsumsi barang yang bergantung pada bahan baku impor.
Saat suku bunga naik, biaya pinjaman biasanya ikut meningkat sehingga cicilan kredit berpotensi menjadi lebih mahal.
Di saat yang sama, pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga sejumlah barang dan jasa, terutama yang terkait dengan impor atau menggunakan komponen dari luar negeri.
Lihat Juga :EDUKASI KEUANGAN Rupiah Lemas, Apakah Saat Ini Waktu Tepat Investasi Valas? |
Kondisi tersebut dapat mengurangi daya beli apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang lebih cermat.
Masyarakat perlu menyesuaikan pola pengeluaran, mengatur utang, menyiapkan dana darurat, hingga memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kondisi pasar.
Lalu, langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga kondisi keuangan tetap sehat di tengah suku bunga yang meningkat dan rupiah yang melemah?
1. Tunda Belanja Konsumtif dan Kurangi Utang
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyarankan masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu.
Menurutnya, pengeluaran untuk barang yang sifatnya konsumtif dan belum mendesak sebaiknya ditunda terlebih dahulu.
"Barang-barang yang sebenarnya kurang penting dan kurang perlu juga masih bisa ditunda pengeluarannya. Entah itu mau ganti gadget, ganti TV, beli kulkas ataupun barang lain yang sebenarnya tidak terlalu penting dan perlu sebaiknya di-hold dulu," kata Andi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/6).
Selain menahan belanja konsumtif, masyarakat juga perlu lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit untuk kebutuhan yang manfaatnya cepat habis.
Perencana keuangan Mike Rini Sutikno mengingatkan utang konsumtif dengan tenor panjang dapat menjadi beban ketika kondisi ekonomi memburuk dan bunga pinjaman meningkat.
"Barangnya udah enggak ada, udah habis manfaatnya, tapi Anda masih nyicil, itu harus diwaspadai, dihindari saja," ujar Mike.
Menurutnya, masyarakat perlu segera memetakan seluruh utang yang dimiliki dan menentukan prioritas pelunasan.
"Kita konsumen, masyarakat secara umum harus segera melakukan mapping utang kita, identifikasi mana yang paling urgent untuk dilunasi, terutama utang dengan bunga mengambang dan utang konsumtif," katanya.
Lihat Juga : |
2. Waspadai KPR dan Kredit Berbunga Floating
Kenaikan suku bunga biasanya paling cepat dirasakan oleh pemilik kredit dengan bunga mengambang (floating rate). Ketika suku bunga acuan naik, bunga pinjaman juga berpotensi ikut meningkat sehingga cicilan bulanan menjadi lebih besar.
Andi menilai KPR menjadi salah satu jenis utang yang paling terdampak dalam situasi seperti sekarang.
"Tentunya adalah utang-utang yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga ini tadi. Contohnya adalah KPR," kata Andi.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang hendak mengambil KPR untuk memahami skema kredit yang ditawarkan, termasuk masa bunga tetap dan bunga mengambang setelah periode promosi berakhir.
"Minta dihitung ulang dulu. Itu untuk memudahkan kita mengetahui terutama cicilan per bulannya nanti itu berapa dan kita mampu enggak menyicil sebesar itu," ujarnya.
Sementara itu, Mike menjelaskan bunga floating dapat memberikan tekanan terhadap arus kas rumah tangga apabila pendapatan tidak ikut meningkat.
"Kalau kita penghasilan tidak meningkat sementara cicilan utang kita meningkat karena tingkat suku bunganya juga meningkat maka akan menggerus kemampuan kita untuk membayar biaya hidup bulanan," katanya.
Bagi masyarakat yang sudah memiliki kredit berbunga floating, Mike menyarankan untuk memprioritaskan pelunasan lebih cepat apabila memungkinkan.
"Kalau ada dana lebih, yang floating terlebih dahulu bisa diprioritaskan untuk dilunasi atau dikurangi saldo utangnya," ujar Mike.
Lihat Juga :EDUKASI KEUANGAN Rupiah Tembus Rp17.600, Masihkah Tepat Investasi Dolar? |
3. Perkuat Dana Darurat
Ketidakpastian ekonomi membuat dana darurat menjadi semakin penting. Dana ini berfungsi sebagai bantalan keuangan apabila terjadi kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau kebutuhan mendesak lainnya.
Menurut Andi, porsi dana darurat tidak perlu diubah dari target ideal yang selama ini digunakan. Namun, instrumen penempatannya dapat disesuaikan agar lebih aman dari gejolak pasar.
"Porsinya tidak perlu diubah, tetap aja sesuai dengan idealnya," kata Andi.
Ia menilai dana darurat yang sebelumnya ditempatkan pada instrumen berisiko tinggi seperti reksa dana saham dapat dialihkan ke instrumen yang lebih stabil.
"Kita bisa switching ke reksadana pasar uang ataupun pendapatan tetap," ujarnya.
Sementara itu, Mike berpandangan dana darurat justru perlu diperbesar karena risiko kehilangan pendapatan meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Dalam kondisi ketidakstabilan ekonomi seperti sekarang, recovery-nya kita bisa lebih panjang, mungkin lebih dari enam bulan," kata Mike.
Ia menyarankan masyarakat mempertimbangkan dana darurat hingga sembilan bulan pengeluaran atau lebih apabila kondisi keuangannya memungkinkan.
"Kalaupun Anda saat ini sudah memiliki dana emergency enam bulan, rekomendasi tetap ditambah," ujarnya.
Lihat Juga : |
4. Pilih Investasi yang Lebih Defensif
Saat suku bunga naik, investor pemula sebaiknya lebih fokus menjaga modal dibanding mengejar keuntungan tinggi dalam waktu singkat.
Andi menilai obligasi pemerintah seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Sukuk Ritel dapat menjadi salah satu pilihan yang relatif aman.
"Karena penjaminnya adalah pemerintah, kita bisa berpikiran positif bahwa ini akan relatif lebih aman," kata Andi.
Menurutnya, instrumen tersebut menawarkan risiko yang lebih rendah dibanding pasar saham dengan imbal hasil yang umumnya masih menarik.
Mike juga menilai momentum kenaikan suku bunga dapat dimanfaatkan untuk melirik instrumen pendapatan tetap.
"Saat ini momentum yang bisa dimanfaatkan untuk membeli obligasi pemerintah dan sukuk," ujarnya.
Selain itu, saham sektor finansial, konsumsi, utilitas, dan telekomunikasi juga dapat menjadi pilihan untuk diversifikasi karena cenderung lebih defensif dibanding sektor lain.
Di sisi lain, kedua perencana keuangan mengingatkan investor pemula untuk berhati-hati terhadap instrumen yang terlalu spekulatif.
"Hindari investasi-investasi yang berisiko tinggi," kata Andi.
Mike menambahkan bahwa kondisi seperti sekarang lebih cocok digunakan untuk membangun fondasi investasi yang kuat.
"Jadi intinya itu fondasi yang kuat terlebih dahulu, bukan mencari return yang setinggi-tingginya," ujarnya.
5. Hitung Ulang Sebelum Ambil Kredit Baru
Masyarakat yang berencana mengambil kredit baru perlu mempertimbangkan dampak kenaikan suku bunga terhadap kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang.
Andi menyarankan calon debitur meminta simulasi terbaru dari bank agar dapat memperkirakan besaran cicilan apabila bunga kembali meningkat.
"Minta dihitung ulang dulu. Itu untuk memudahkan kita mengetahui terutama cicilan per bulannya nanti itu berapa dan kita mampu enggak menyicil sebesar itu," katanya.
Bagi masyarakat yang sudah memiliki KPR, ia juga menyarankan untuk mengevaluasi kemungkinan melakukan takeover ke bank lain apabila terdapat penawaran yang lebih kompetitif.
"Kalau memang dirasa ada dan dirasa worth it, kenapa enggak teman-teman takeover KPR ke bank lainnya," ujar Andi.
Sementara itu, Mike menilai kredit baru yang sifatnya tidak mendesak sebaiknya ditunda terlebih dahulu.
"Kalau bukan kebutuhan mendesak, ditunda dulu, tunggu hingga kondisi suku bunga lebih stabil," katanya.
Jika kredit tetap harus diambil, ia menyarankan memilih bunga tetap agar cicilan lebih mudah diprediksi.
"Pilih yang fixed rate saja. Setidaknya Anda tahu pasti cicilan bulanan Anda akan tetap selama jangka waktu tenor pinjamannya," ujarnya.
Lihat Juga : |
6. Audit Keuangan Berkala
Ketika harga barang mulai naik akibat pelemahan rupiah, masyarakat perlu mengetahui secara rinci ke mana uang mereka dibelanjakan setiap bulan.
Andi menyarankan setiap orang membuat anggaran, mencatat pengeluaran yang benar-benar terjadi, lalu melakukan evaluasi secara berkala.
"Bikin budgeting, kemudian catat ketika pengeluaran itu benar-benar terjadi, terus kemudian kita evaluasi di akhir bulan," kata Andi.
Menurutnya, disiplin mencatat pengeluaran menjadi langkah awal untuk mengetahui pos mana yang sebenarnya paling banyak menyedot pendapatan.
Mike menyarankan audit keuangan dimulai dengan melihat mutasi rekening selama tiga bulan terakhir.
"Tiga bulan terakhir, coba kita analisa. Pengeluarannya apa saja, lalu dikelompokkan," ujarnya.
Setelah seluruh transaksi dikelompokkan berdasarkan kategori, masyarakat dapat lebih mudah menentukan pengeluaran mana yang perlu dikurangi atau diperbaiki.
"Kalau sudah ketahuan pengeluarannya apa saja, lalu dikelompokkan, coba lihat pengeluaran besarnya di mana," ujar Mike.
7. Hemat Tanpa Drastis Korbankan Kualitas Hidup
Menghemat pengeluaran tidak selalu berarti memangkas seluruh kebutuhan atau menurunkan kualitas hidup secara drastis. Penyesuaian bisa dilakukan dengan memilih alternatif yang lebih efisien.
Andi mencontohkan masyarakat dapat mengurangi frekuensi makan di luar, memasak sendiri di rumah, atau menyeduh kopi sendiri dibanding membeli minuman di kafe setiap hari.
"Kalau saya suka bilang gini, bedakan antara berhemat sama pelit," ujarnya.
Menurut Andi, sumber gizi juga tidak selalu harus berasal dari bahan makanan yang mahal. Tempe, tahu, ikan, dan sayuran tetap dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dengan biaya yang lebih terjangkau.
Sementara itu, Mike menilai penghematan akan terasa lebih ringan jika dilakukan berdasarkan kesadaran terhadap prioritas keuangan, bukan karena merasa terpaksa.
"Kita melakukan berbagai penghematan, melakukan pengelolaan keuangan itu dengan penuh semangat sebenarnya," kata Mike.
Ia menambahkan perubahan kebiasaan akan lebih mudah dijalankan ketika seseorang memahami tujuan keuangan yang ingin dicapai, sehingga proses penghematan tidak terasa sebagai beban.
(sfr)