BI Buka-bukaan Dampak Kenaikan Harga Pertamax ke Inflasi

CNN Indonesia
Jumat, 19 Jun 2026 15:46 WIB
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi mendorong inflasi dalam negeri. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi mendorong mendorong inflasi dalam negeri.

Meski demikian, bank sentral memastikan laju inflasi masih akan berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah yakni maksimal 3,5 persen.

Deputi Gubernur BI Aida S Budiman memperkirakan dampak langsung penyesuaian harga BBM nonsubsidi terhadap inflasi nasional relatif terbatas.

"Untuk sementara hitungan kami lebih kurang berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi," ujar Aida dalam konferensi pers, Kamis (18/6).

Lebih rinci, Aida menjelaskan risiko inflasi yang saat ini menjadi perhatian utama berasal dari tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak. Hal ini lah yang menjadi dasar pemerintah menyesuaikan harga BBM nonsubsidi yang dilakukan belakangan ini.

"Secara langsung kita lihat kepada administered prices atau harga-harga yang ditentukan oleh pemerintah. Kemarin ada perubahan harga BBM non-subsidi, ada yang naik seperti Pertamax, tetapi ada juga yang turun seperti Dexlite dan Pertamina Dex," ujarnya.

Selain faktor energi, BI juga mewaspadai potensi tekanan inflasi dari kelompok pangan bergejolak (volatile food), terutama jika fenomena El Nino mulai memengaruhi produksi pertanian pada paruh kedua tahun ini.

Menurut Aida, potensi gangguan cuaca diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Oktober atau November. Namun pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan telah melakukan langkah antisipasi untuk meminimalkan dampaknya terhadap pasokan pangan.

Ia menambahkan risiko kenaikan harga pupuk juga dinilai masih terkendali karena kapasitas produksi domestik dinilai mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Dengan berbagai faktor tersebut, BI memperkirakan inflasi memang akan menunjukkan tren kenaikan dibandingkan sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional.

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, bank sentral terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui berbagai program pengendalian harga pangan.

"Dengan hal itu semua, memang proyeksi inflasi mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5 plus minus 1 persen. Jadi paling tinggi 3,5 persen dan itu masih dalam target," pungkasnya.

(ldy/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK