Rupiah Amblas Lagi ke Rp17.845 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan
Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.845 per dolar AS pada perdagangan Jumat (19/6) pagi. Mata uang Garuda melemah 51 poin atau 0,29 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang berada di zona merah terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,11 persen, peso Filipina melemah 0,14 persen, ringgit Malaysia terdepresiasi 0,05 persen, serta dolar Singapura terkoreksi 0,09 persen.
Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,12 persen dan won Korea Selatan terapresiasi 0,06 persen. Adapun dolar Hong Kong stabil.
Di sisi lain, mata uang utama negara maju kompak melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,05 persen, poundsterling Inggris melemah 0,08 persen, dolar Australia terkoreksi 0,13 persen, dolar Kanada turun 0,08 persen, dan franc Swiss melemah 0,11 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS yang masih menguat setelah Federal Reserve memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut pasca-rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
Menurutnya, indeks dolar AS saat ini telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap belum pulihnya pasokan minyak mentah global akibat konflik geopolitik juga turut menopang penguatan mata uang Negeri Paman Sam.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang masih kembali menguat oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pasca-FOMC. Kekhawatiran apabila pasokan minyak mentah dunia masih belum akan pulih dari perang ikut mendukung dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (19/6).
Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.
(lau/ins)