AS Izinkan Lagi Penjualan Minyak Iran di Tengah Negosiasi Damai

CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 04:45 WIB
Oil Refinery, Chemical & Petrochemical plant abstract at night.
Amerika Serikat (AS) mengizinkan kembali penjualan minyak Iran di tengah berlangsungnya negosiasi menuju perjanjian damai permanen. Ilustrasi. (iStock/zorazhuang).
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) mengizinkan kembali penjualan minyak Iran di tengah berlangsungnya negosiasi menuju perjanjian damai permanen antara Washington dan Teheran.

Kementerian Keuangan AS pada Senin (22/6) mengeluarkan lisensi umum yang memperbolehkan penjualan minyak mentah, produk petrokimia, dan produk minyak bumi asal Iran hingga 21 Agustus 2026.

Kebijakan ini menjadi salah satu langkah paling signifikan dalam pelonggaran sanksi AS terhadap Iran dalam beberapa dekade terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai imbalannya, Iran disebut berkomitmen membuka akses inspeksi nuklir internasional dan menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan keputusan tersebut sejalan dengan kemajuan pembicaraan yang sedang berlangsung di Swiss.

"Dalam kerangka kesepakatan ini, Kementerian Keuangan menerbitkan lisensi umum sementara selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran," ujar Bessent melalui media sosial X, melansir Reuters.

Lisensi tersebut juga memungkinkan minyak Iran masuk ke wilayah AS jika diperlukan untuk menyelesaikan proses penjualan, pengiriman, atau pembongkaran muatan. Padahal, AS praktis tidak lagi mengimpor minyak Iran sejak sanksi diberlakukan pascarevolusi Iran pada 1979.

Berdasarkan nota kesepahaman yang diteken pekan lalu antara Washington dan Teheran, AS juga sepakat memberikan pengecualian terhadap ekspor minyak mentah Iran, produk turunannya, hingga berbagai layanan pendukung seperti transaksi perbankan, asuransi, dan transportasi.

Bahkan, pembayaran untuk transaksi tersebut diperbolehkan menggunakan mata uang dolar AS.

Meski demikian, lisensi itu tidak berlaku bagi sejumlah wilayah dan negara yang masih berada dalam pembatasan AS, termasuk Korea Utara, Kuba, dan Crimea.

Kebijakan tersebut muncul di tengah upaya kedua negara mencapai kesepakatan damai permanen setelah konflik yang berlangsung selama hampir empat bulan.

Mediator internasional menyebut putaran pertama perundingan yang digelar di Swiss menghasilkan kemajuan yang cukup positif. Pembicaraan itu berlangsung berdasarkan nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen Iran untuk menjamin lalu lintas kapal tetap terbuka di Selat Hormuz serta memberikan akses kepada inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk melakukan pengawasan terhadap program nuklirnya.

Selat Hormuz menjadi isu krusial dalam negosiasi karena jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi paling penting di dunia.

Ketegangan sempat meningkat ketika Iran melakukan blokade di kawasan tersebut yang kemudian direspons AS dengan memblokade sejumlah pelabuhan Iran.

Hal tu sempat mendorong lonjakan harga minyak global. Namun setelah tercapainya kesepakatan sementara antara kedua negara, harga minyak kembali turun ke level terendah sejak sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.

Sebelum sanksi diperketat kembali pada 2018, sejumlah negara seperti India, Jepang, Korea Selatan, Italia, Yunani, Taiwan, dan Turki merupakan pembeli utama minyak Iran.

Dalam beberapa tahun terakhir, kilang-kilang independen di China menjadi pembeli terbesar minyak Iran karena mendapatkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan minyak dari negara lain.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google