AS Klaim 20 Juta Barel Minyak Lolos dari Selat Hormuz dalam 24 Jam
Amerika Serikat (AS) mengklaim sekitar 20 juta barel minyak mentah berhasil keluar dari Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir di tengah pemulihan lalu lintas pelayaran pasca-kesepakatan damai sementara dengan Iran.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan volume tersebut diangkut oleh 72 kapal tanker dan kapal niaga yang melintasi salah satu jalur energi paling penting di dunia.
"Kami memiliki arus (pengiriman minyak) yang normal hari ini," kata Wright dalam Reuters Global Energy Forum di New York, Rabu (24/6), seperti dikutip Anadolu Agency.
Menurut Wright, volume pengiriman tersebut relatif sejalan dengan tingkat lalu lintas sebelum konflik meningkat antara AS dan Iran.
Ia juga mengklaim Iran tidak bisa lagi menutup Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu alat tekan utama Teheran dalam perang.
"Iran tidak akan memiliki kemampuan untuk menutup Selat Hormuz ke depan. Itu adalah pengaruh utama mereka dan kami sedang menghilangkan pengaruh tersebut," ujarnya.
Wright menyebut sebagian kapal masih menghindari jalur pelayaran utama karena risiko ranjau laut. Sejumlah kapal memilih berlayar lebih dekat ke wilayah pesisir Iran atau melalui jalur selatan dekat Oman dengan pengawalan militer.
Meski jumlah kapal yang melintas masih lebih rendah dibandingkan kondisi normal, ukuran kapal yang lebih besar membuat volume pengiriman minyak tetap mendekati tingkat sebelum perang.
Namun demikian, Wright memperkirakan normalisasi penuh lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih membutuhkan waktu beberapa pekan karena proses pembersihan ranjau masih berlangsung.
Selat Hormuz merupakan salah satu titik transit energi paling vital di dunia. Jalur sempit tersebut menjadi penghubung utama ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara produsen di kawasan Teluk.
Data pelayaran terbaru menunjukkan aktivitas kapal tanker dan kapal energi mulai pulih setelah tercapainya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran. Sejumlah eksportir juga kembali meningkatkan pengiriman kargo energi dari kawasan Teluk Persia.
Membaiknya arus pelayaran melalui Selat Hormuz turut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Kondisi itu ikut menekan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir karena premi risiko geopolitik mulai berkurang.
(lau/pta)