Mengapa Harga Minyakita Terus-terusan di Atas HET Rp15.700 per Liter?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga minyak goreng, termasuk Minyakita, masih bertahan di level tinggi pada pekan kedua Juli 2026.
"Beras, minyak goreng perlu mendapatkan perhatian walaupun perubahan IPH-nya relatif rendah, tetapi level harganya sudah sangat tinggi. Ini yang sebenarnya dibayar oleh masyarakat. Walaupun IPH-nya rendah, artinya harganya stabil, tetapi stabil pada harga yang tinggi," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (13/7).
Untuk minyak goreng, BPS mencatat harga rata-rata nasional kini mencapai Rp20.224 per liter. Meski baru 97 kabupaten/kota atau sekitar 26,94 persen wilayah Indonesia yang mengalami kenaikan indeks perkembangan harga (IPH), harga komoditas tersebut dinilai masih perlu menjadi perhatian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Winny juga menyoroti harga minyak goreng Minyakita di pasar rakyat yang kini telah melampaui harga eceran tertinggi (HET). Berdasarkan data SP2KP Kementerian Perdagangan, rata-rata harga Minyakita sudah mencapai Rp16.380 per liter, atau berada di atas HET sebesar Rp15.700 per liter.
Selain itu, sekitar 40 kabupaten/kota juga masih mencatat kenaikan harga Minyakita dengan lonjakan tertinggi terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara yang naik 44,59 persen.
Padahal, pemerintah terus mendorong pendistribusian Minyakita dengan mengoptimalkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025 agar harga kembali terkendali. Adapun aturan tersebut mewajibkan sedikitnya 35 persen distribusi dilakukan melalui BUMN Pangan.
Lantas, mengapa harga Minyakita sulit menyesuaikan HET di tingkat konsumen?
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai ketidaksesuaian harga Minyakita dengan HET akibat masalah struktural bahan baku dan distribusi.
Ia mengingatkan Minyakita diolah dari minyak sawit mentah (CPO) hasil kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri (DMO) sebesar 35 persen yang sangat dipengaruhi harga pasar.
"Bagaimana mungkin bisa memproduksi Minyakita dengan harga Rp13.500 ketika dilepas ke distributor tingkat satu, sementara harga bahan baku di atas Rp15.000?" ujar Khudori saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (14/7).
Khudori menjelaskan hitungan rendemen 1 liter minyak membutuhkan lebih dari 1 kilogram CPO. Dengan begitu, menurut dia, produsen jelas rugi saat harga global melonjak ke Rp16.000 per kilogram.
Ia pun menambahkan masalah semakin rumit karena distribusi di lapangan membengkak hingga tingkat empat (D4). Kondisi tersebut melanggar regulasi yang mematok maksimal D2, sehingga dengan banyaknya tangan distributor yang mengambil margin membuat harga ke konsumen kian melambung.
"Inilah yang bisa menjelaskan kenapa harga itu masih tinggi. Karena ketika distributornya itu semakin banyak, masing-masing titik, masing-masing distributor kan pasti ngutip margin kan? Akhirnya sampai ke pengecer, sampai ke konsumen, ya harganya tinggi," terangnya.
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menyoroti dominasi swasta dalam pengolahan CPO. Kondisi tersebut memicu benturan kepentingan antara motif laba korporasi dan target keterjangkauan pemerintah.
"Pelaku swasta secara rasional memaksimalkan profit dengan mengalokasikan volume ke segmen lebih menguntungkan," kata Eliza.
Akibatnya, saat harga ekspor tinggi, komitmen DMO menciut hingga memicu kelangkaan di pasar rakyat.
Oleh karena itu, Eliza mengusulkan beberapa langkah yang perlu diperbaiki dalam pengadaan Minyakita.
Untuk jangka panjang, Eliza menyarankan pemberdayaan koperasi petani sawit di sektor hilir agar harga tidak mendikte pasar global.
Sementara untuk jangka pendek, ia meminta pengetatan DMO dengan penalti tegas, pengawasan digital berbasis barcode, serta operasi pasar agresif.
"Perluas operasi pasar targeted kalangan menengah bawah yang emang jadi sasaran utama penerimanya dengan melibatkan Bapanas, Kemendag, menggunakan data real-time untuk daerah dengan kesenjangan tertinggi," pungkasnya.
(fln/sfr) Add
as a preferred source on Google