Ongkos Jaga Rupiah: Benarkah Bunga Tinggi Mulai Cekik Industri & UMKM?
Namun, Yusuf menggarisbawahi bahwa pangkal masalah lesunya ekspansi dunia usaha saat ini bukan semata-mata dipicu oleh tingginya bunga kredit. Likuiditas perbankan saat ini dinilai masih memadai, tetapi permintaan (demand) dari pasar yang justru sedang melempem.
Akar masalahnya justru daya beli masyarkat. Industri dan UMKM menunda ekspansi bisnisnya karena prospek permintaan masih gelap.
"Banyak pelaku usaha menunda ekspansi karena prospek permintaan belum cukup kuat. Dalam kondisi seperti ini, penurunan BI Rate belum tentu langsung mendorong investasi, tetapi justru berisiko menambah tekanan terhadap rupiah," tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, ia mendorong perlunya pembagian peran (sharing of burden) yang tegas antara otoritas moneter dan pemerintah melalui penguatan bauran kebijakan.
BI disarankan tetap fokus menjaga jangkar stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi dibarengi dengan instrumen yang lebih terarah untuk sektor riil.
Sementara dari sisi pemerintah, Yusuf menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal untuk mempertebal kepercayaan pasar sehingga tekanan terhadap mata uang garuda bisa diredam.
Langkah konkret yang perlu dipacu mencakup optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE) agar betah parkir di dalam negeri, ketepatan sasaran subsidi bunga seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta percepatan belanja negara ke sektor riil.
"Yang paling menentukan sebenarnya adalah permintaan. Pelaku usaha tidak mengambil kredit hanya karena bunga turun sedikit. Mereka akan berekspansi ketika ada pesanan dan pasar yang jelas," tutur Yusuf.
"Karena itu, memperkuat permintaan domestik dan menjaga daya saing industri akan jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan penurunan suku bunga," pungkasnya.
(pta) Add
as a preferred source on Google