Taipan Prajogo Pangestu Mau Caplok Raksasa Panas Bumi Filipina Rp89 T
Perusahaan energi terbarukan milik taipan Indonesia Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy, mengajukan penawaran senilai US$5 miliar atau sekitar Rp89,9 triliun (asumsi kurs Rp17.980 per dolar AS) untuk mengakuisisi Energy Development Corp. (EDC), perusahaan panas bumi terbesar di Filipina.
Penawaran tersebut bersifat tidak diminta (unsolicited), indikatif, dan tidak mengikat (non-binding). Transaksi juga masih bergantung pada proses uji tuntas (due diligence) serta persetujuan dari pihak-pihak terkait.
Dalam keterbukaan informasi, pemegang saham utama EDC, First Gen Corp., menyatakan hingga saat ini belum ada pembahasan resmi maupun kesepakatan yang diteken antara kedua belah pihak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hingga saat ini belum ada diskusi antara kedua pihak dan belum ada perjanjian yang ditandatangani," tulis First Gen dalam pernyataannya dikutip dari Forbes, Rabu (15/7).
First Gen yang dikendalikan keluarga konglomerat Federico Lopez juga mengatakan belum menunjuk penasihat keuangan untuk memproses potensi transaksi tersebut.
EDC merupakan perusahaan panas bumi milik negara Filipina yang diakuisisi Grup Lopez pada 2007. Perusahaan itu kini memiliki dan mengoperasikan 16 pembangkit listrik tenaga panas bumi di Filipina dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.302,78 megawatt (MW).
Selain itu, EDC juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air, surya, dan angin dengan kapasitas hampir 300 MW.
Jika akuisisi terealisasi, aset tersebut akan memperkuat portofolio energi terbarukan Prajogo yang dalam beberapa tahun terakhir agresif berekspansi di sektor panas bumi.
Pada 2023, Prajogo mencatatkan saham perusahaan tambang batu bara Petrindo Jaya Kreasi dan Barito Renewables Energy di Bursa Efek Indonesia.
Barito Renewables merupakan induk usaha Star Energy Geothermal Group, produsen panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas sekitar 886 MW yang tersebar di tiga proyek panas bumi di Jawa Barat.
Setahun kemudian, Prajogo menggandeng perusahaan energi Filipina ACEN milik konglomerat Jaime Augusto Zobel de Ayala untuk membangun proyek pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia.
Ekspansi bisnis Prajogo juga berlanjut ke Singapura. Pada April 2025, perusahaan patungan Chandra Asri Pacific dan Glencore merampungkan akuisisi kilang minyak serta aset petrokimia Shell di negara tersebut.
Lima bulan setelahnya, Chandra Asri juga mengambil alih jaringan stasiun pengisian bahan bakar Esso di Singapura.
Berdasarkan data real-time Forbes, per Kamis (16/7), Prajogo memiliki kekayaan sekitar US$15,4 miliar dan termasuk salah satu orang terkaya di Indonesia. Ia membangun kerajaan bisnisnya melalui Barito Pacific yang berkembang menjadi grup energi dan petrokimia.
Sementara itu, keluarga Lopez tercatat memiliki kekayaan sekitar US$285 juta. Selain bisnis energi, keluarga tersebut juga memiliki kepentingan di sektor properti dan media melalui ABS-CBN.
Kabar penawaran akuisisi itu langsung disambut positif pasar. Saham First Gen ditutup melonjak 18,4 persen di Bursa Manila setelah sempat menguat hingga 33,3 persen pada perdagangan intraday.
(lau/sfr) Add
as a preferred source on Google