Harga-harga Makin Mahal? Ini Cara Hemat Tanpa Mengorbankan Kenyamanan
Harga pangan hingga biaya transportasi terus naik dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini tidak hanya dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga mulai membebani kelompok kelas menengah hingga pelaku usaha.
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menilai dampak kenaikan harga dirasakan berbeda oleh setiap kelompok masyarakat.
Menurut dia, masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak karena ketika harga pangan naik, mereka harus mengurangi kualitas makanan atau mencari alternatif yang lebih murah agar kebutuhan tetap terpenuhi.
Sementara, kalangan atas lebih banyak merasakan dampaknya melalui bisnis yang menghadapi kenaikan biaya operasional, penurunan daya beli konsumen, hingga tuntutan kenaikan upah pekerja.
Lihat Juga :EDUKASI KEUANGAN Benarkah Rekening Banyak Bikin Keuangan Lebih Rapi? |
Di sisi lain, Perencana Keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali menilai kelompok menengah justru menjadi kelompok yang paling rentan dalam jangka panjang.
Pasalnya, kelompok ini memiliki biaya transportasi yang cukup besar untuk bekerja, tetapi tidak mendapatkan bantuan atau subsidi seperti masyarakat berpenghasilan rendah.
Lalu bagaimana cara menghemat pengeluaran tanpa membuat kualitas hidup menurun?
Berikut sejumlah tips dari para perencana keuangan:
Lihat Juga :HARI ANAK NASIONAL Cara Siapkan Investasi untuk Dana Pendidikan Anak Sejak Dini |
1. Fokus pada kebutuhan, bukan gaya hidup
Andy mengatakan cara paling sederhana adalah menjalani hidup sesuai kemampuan tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain.
"Prinsipnya agar tidak merasa tersiksa adalah menjalani hidup seperti yang bisa kita raih dan jalani, tanpa harus melihat dan membandingkan dengan kondisi orang lain," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (31/7).
Menurut dia, masyarakat tetap bisa memperoleh makanan bergizi dengan harga terjangkau melalui warung atau memasak sendiri di rumah.
"Bila dirasa masih kemahalan, kita bisa memasaknya sendiri di rumah yang dapat dibawa juga jadi bekal makan di tempat kerja," ujar Andy.
Pengeluaran kecil yang dilakukan setiap hari sering kali menjadi sumber kebocoran keuangan terbesar. Andy menilai kebiasaan membeli kopi kekinian atau jajanan harian bisa menggerus anggaran tanpa disadari.
"Tidak perlu iri dan membandingkan dengan mereka yang dapat makan di kafe dengan leluasa," ujar Andy.
Lihat Juga :HARI ANAK NASIONAL Tips Praktis Orang Tua Kenalkan Menabung dan Investasi ke Anak |
2. Mulai berjalan kaki untuk jarak dekat
Ahmad Gozali menilai masyarakat kini terlalu bergantung pada layanan transportasi daring, bahkan untuk jarak yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Menurut dia, kebiasaan berjalan kaki untuk first mile atau last mile perjalanan dapat memangkas biaya transportasi sekaligus meningkatkan kesehatan.
"Weekdays kita hindari jalan kaki dan pilih pesan ojol berbayar. Padahal kalau first mile atau last mile dilakukan dengan jalan kaki, pengeluaran bisa lebih hemat," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com.
3. Pertimbangkan transportasi umum
Jika biaya bahan bakar dan biaya kendaraan pribadi semakin tinggi, masyarakat bisa mulai mempertimbangkan moda transportasi umum.
Andy mengatakan memang ada kompromi dari sisi kenyamanan, tetapi penghematan yang diperoleh bisa cukup signifikan. Selain itu, penggunaan sepeda untuk perjalanan tertentu juga bisa menjadi alternatif yang lebih murah dan sehat.
"Bila memungkinkan, alternatif lain dan lebih sehat adalah dengan naik sepeda ke tempat kerja dengan kompensasi kita harus menyediakan waktu dan tools lebih untuk mandi sesampainya di tempat kerja," ujar Andy.
4. Sisihkan uang sejak hari gajian
Andy menyarankan masyarakat langsung mengalokasikan dana untuk kebutuhan wajib begitu menerima gaji. Cicilan rumah, listrik, air, biaya pendidikan hingga tabungan sebaiknya dipisahkan sejak awal bulan.
"Prioritas adalah pengeluaran yang bersifat penting dan wajib seperti untuk cicilan KPR, cicilan kendaraan bermotor, beli token listrik, bayar PAM, uang sekolah anak, dan lainnya," ujar Andy.
Jika perlu, gunakan rekening berbeda agar dana kebutuhan utama tidak tercampur dengan uang belanja harian.
"Gunakan nomor rekening lain untuk menaruh dana-dana tersebut, terpisah dari rekening yang akan digunakan untuk konsumsi dan cashflow sehari-hari," ujar Andy.
5. Jaga porsi pengeluaran harian maksimal 55 persen
Menurut Andy, tidak ada aturan baku berapa persen gaji yang harus digunakan untuk makan dan transportasi. Menurut dia, angka yang ditentukan oleh setiap orang berbeda-beda.
"Bujet transportasi menjadi hal mutlak yang harus kita alokasikan dan tidak ada acuan baku berapa persen yang dapat dihabiskan untuk kedua hal tersebut karena sangat relatif apalagi bagi orang-orang yang yang tinggal dan bekerjanya di area megapolitan seperti Jabodetabek," ujar Andy.
Namun, secara umum, kebutuhan sehari-hari termasuk makan dan transportasi idealnya berada di kisaran 55 persen dari total pengeluaran bulanan.
Jika kebutuhan tersebut membengkak, masyarakat bisa memangkas pos pengeluaran lain seperti hiburan atau me time terlebih dahulu.
"Bila dirasa perlu, kita bisa ambilkan bujet tambahan dari pos lainnya untuk menambahi misalnya dari bujet untuk me time kita yang sebesar 10 persen," ujar Andy.
(pta)