ANALISIS

Membaca Arah Ekonomi RI usai Melaju 5,29 Persen di Kuartal II 2026

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 07:30 WIB
Pemukiman warga di sekitar jalur kereta barang tujuan Pelabuhan Tanjung Priok. Jakarta, Selasa, 29 Januari 2019. CNNIndonesia/Adhi Widaksono.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen di kuartal II 2026, didorong konsumsi pemerintah dan investasi. Pemerintah dinilai perlu jaga momentum hingga akhir tahun. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Langkah ini menjadi penting mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB).

Kedua, memperluas penciptaan lapangan kerja, terutama di sektor manufaktur dan pertanian. Menurut Andry, kedua sektor tersebut memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga lebih inklusif.

Ketiga, pemerintah harus terus membangun kepercayaan investor melalui kebijakan yang konsisten dan mudah diprediksi. Kepastian regulasi dinilai menjadi faktor penting untuk mendorong investasi swasta, yang selama ini masih menjadi salah satu titik lemah pertumbuhan ekonomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Momentum pertumbuhan ada, namun pemerintah tetap perlu menjaga daya beli masyarakat, memperluas penciptaan lapangan kerja terutama di sektor manufaktur dan pertanian, serta konsisten membangun kepercayaan investor melalui kebijakan yang lebih predictable dan konsisten agar investasi terus meningkat," jelas Ekonom Bank Mandiri tersebut.

Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,29 persen memang layak diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat pemerintah terlena.

"Angka ini menunjukkan resiliensi ekonomi domestik yang masih cukup kuat, terutama di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda," kata Ronny.

Ronny menilai kontribusi ekspor juga belum bisa menjadi mesin pertumbuhan yang benar-benar konsisten karena masih sangat bergantung pada naik turunnya harga komoditas dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini masih dipengaruhi kombinasi faktor struktural dan sementara.

Belanja pemerintah, stimulus fiskal, hingga efek musiman masih menjadi pendorong penting. Sebaliknya, transformasi ekonomi yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru.

Ia mencontohkan, misalnya peningkatan produktivitas industri, hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi, serta penguatan sektor manufaktur, dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak maksimal.

"Ini membuat saya melihat bahwa kualitas pertumbuhan masih perlu diperkuat, bukan hanya dijaga dari sisi angka," jelasnya.

Ke depan, Ronny menilai peluang mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen hingga akhir 2026 masih terbuka lebar. Namun, peluang tersebut bersifat tentatif dan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam beberapa bulan mendatang.

"Momentum saat ini cukup baik sebagai pijakan, namun ada beberapa prasyarat penting," imbuhnya.

Menurutnya, investasi harus mulai mengambil peran lebih dominan, terutama investasi yang menciptakan kapasitas produksi baru, meningkatkan produktivitas, sekaligus membuka lapangan kerja berkualitas.

Selain itu, stabilitas makroekonomi juga harus tetap dijaga. Nilai tukar rupiah dan inflasi, kata dia, akan menjadi indikator penting yang menentukan daya beli masyarakat maupun kepercayaan pelaku usaha.

"Pemerintah perlu memastikan bahwa stimulus yang diberikan tidak hanya mendorong konsumsi jangka pendek, tetapi juga memperkuat sisi penawaran ekonomi," katanya.

Ronny melihat bahwa tanpa dorongan investasi yang lebih kuat dan perbaikan struktur ekonomi yang lebih dalam, ada risiko pertumbuhan kembali flat di kisaran 5 persen atau bahkan sedikit di bawahnya ketika faktor-faktor sementara mulai mereda.

"Di sinilah tantangan utamanya: bagaimana mengubah momentum jangka pendek ini menjadi pertumbuhan yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(ins)

HALAMAN:
1 2