BGN Mulai Coret Sekolah Swasta Elite dari Daftar Penerima MBG
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan ratusan sekolah swasta yang dikategorikan sebagai sekolah elite menyatakan tidak ingin mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal itu menjadi bagian dari proses penataan ulang atau refocusing penerima manfaat agar program lebih tepat sasaran.
Sudaryono mengatakan BGN saat ini masih menghitung dampak penataan ulang sasaran penerima MBG, termasuk kemungkinan berkurangnya jumlah penerima dibanding target sebelumnya.
"Sedang kita hitung (target penerima manfaat setelah refocusing), nanti kami umumkan berikutnya. Yang jelas betul yang disampaikan bahwa kita sedang sisir misalnya sekolah-sekolah swasta, khususnya yang elite, itu kan tidak perlu MBG," kata Sudaryono dalam konferensi pers di BGN, Jakarta Pusat, Jumat (7/8).
Lihat Juga : |
Menurut dia, pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak sekolah, komite sekolah, hingga orang tua murid terkait rencana tersebut. Dari hasil komunikasi itu, terdapat ratusan sekolah swasta yang menyatakan tidak memerlukan program MBG.
"Kami komunikasikan dengan kepala sekolah, dengan orang tua, dengan komite sekolah. Ada beberapa sekolah, ada sekian ratus yang sudah menyatakan tidak perlu. Rata-rata sekolah swasta yang memang, mohon maaf, mungkin biayanya juga cukup tinggi dan tidak memerlukan adanya MBG di sekolahnya," ujarnya.
Sudaryono menegaskan pemerintah tak akan memaksakan pemberian MBG kepada sekolah yang menyatakan tidak membutuhkan program tersebut. Prinsip pelaksanaan MBG tetap diarahkan kepada kelompok yang berhak menerima manfaat.
"Intinya adalah ini demokratisasi gizi. Semua yang berhak menerima kita berikan, kecuali yang tidak mau," katanya.
Kendati demikian, ia belum bersedia membeberkan jumlah pasti sekolah maupun calon penerima manfaat yang akan terdampak penataan ulang tersebut. Menurutnya, proses pendataan masih berjalan dan angkanya masih berubah.
"Data pastinya sudah ada, tetapi dinamis. Mungkin enggak bisa saya sampaikan di sini. Nanti kalau sudah final paling tidak kami bisa sampaikan. Mungkin Anda boleh tanya lagi pertanyaan yang sama ini setelah 17 Agustus (pidato nota keuangan RAPBN) ," ujar Sudaryono.
Sebelumnya, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengungkapkan sekitar 8 juta penerima manfaat berpotensi dicoret dari daftar penerima MBG sebagai bagian dari refocusing program.
Penataan dilakukan agar intervensi gizi pemerintah lebih difokuskan kepada kelompok yang paling membutuhkan sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran.
Dalam simulasi awal BGN, salah satu kelompok yang dievaluasi adalah siswa sekolah menengah atas (SMA), khususnya di sekolah-sekolah yang siswanya berasal dari keluarga mampu.
Pemerintah menegaskan penataan tersebut bukan bertujuan mengurangi layanan gizi, melainkan memastikan program MBG lebih tepat sasaran berdasarkan kondisi sosial ekonomi penerima manfaat.