ANALISIS

Molinas: Mesin Industrialisasi atau Sekadar Pasar Baru Motor Listrik?

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 08:15 WIB
This photo taken on November 7, 2024 shows workers assembling electric motorbikes at the Selex factory in Hanoi. Hanoi authorities say that more than two thirds of the poisonous smog that blankets Vietnam's capital for much of the year is caused by p
Jangan Terjebak Jadi Industri Perakitan. (Foto: AFP/NHAC NGUYEN)

Meski memiliki prospek cerah, kesiapan ekosistem dari hulu ke hilir masih menjadi pekerjaan rumah. Pengamat otomotif dari ITB Yannes Martinus Pasaribu mencatat kapasitas perakitan dan industri baterai sudah mulai berkembang. Charging maupun battery swapping pun terus bertambah. Namun, itu semua masih berupa "puzzle" yang terfragmentasi.

Persoalan utama berada di simpul tengah seperti komponen inti, standardisasi baterai, motor penggerak, controller, power electronics, serta interoperabilitas sistem swapping. Infrastruktur dan jaringan after-sales juga masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Belum lagi jika setiap produsen membuat standar baterai dan ekosistem yang tertutup, Yannes menilai volume pasar akan tetap terpecah dan pemasok lokal sulit mencapai skala ekonomi. Maka, PR terbesar bukan lagi sekadar menambah merek dan pabrik, melainkan mengintegrasikan yang sudah ada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah dan integrator harus memastikan standardisasi, rantai pasok, pembiayaan, infrastruktur, dan pasar berkembang dengan arah yang sama," ujar Yannes.

Terkait ketersediaan SDM, Yannes menilai persoalannya bukanlah pada kuantitas pekerja, tetapi pada kesenjangan keahlian atau kedalaman kompetensi. Tenaga kerja RI relatif siap untuk tugas perakitan, mekanik, fabrikasi, dan pengelasan.

Yannes menyebut butuh lebih banyak engineer dan teknisi yang memahami battery engineering, BMS, controller, power electronics, embedded software, thermal management, chip, sampai diagnosis kendaraan listrik.

Ia mengingatkan kalau investasi bergulir sedangkan kemampuan SDM tidak dibangun bersamaan, posisi pekerja RI berisiko tetap terkonsentrasi pada aktivitas manufaktur bernilai tambah lebih rendah.

Sedangkan, pekerjaan engineering bernilai tinggi tetap berada di luar negeri. Ini artinya setiap penambahan produksi dan sales hanya akan meningkatkan impor komponen.

Yannes mengatakan ganjalan terberat dalam jangka pendek adalah menciptakan volume penjualan tanpa membuat industri masuk ke zona nyaman dan kecanduan insentif. Harga, pembiayaan, standardisasi baterai, charging dan swapping, after-sales, serta nilai jual kembali harus dibenahi bersamaan agar konsumen mempunyai alasan ekonomi untuk berpindah.

Dalam jangka panjang, peluangnya jelas besar karena akan terjadinya pengurangan konsumsi BBM, tumbuhnya industri komponen, penciptaan pekerjaan engineering, peningkatan ekspor, sampai terbentuknya kemampuan teknologi nasional.

Namun, industri ini harus mempunyai jalan keluar dari ketergantungan subsidi. Kalau 10 tahun kemudian penjualan masih hidup hanya karena insentif dan pengadaan pemerintah, berarti sebenarnya berhasil diciptakan pasar, tetapi belum berhasil menciptakan industri yang dicanangkan oleh Presiden.

"Ukuran maturitynya justru ketika produk nasional ini mampu bersaing atas harga, kualitas, teknologi, dan layanan," ujar Yannes.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyarankan pemerintah sebaiknya tidak menunggu industri tumbuh baru menyiapkan tenaga kerja. Produsen Molinas wajib bermitra dengan SMK, politeknik dan universitas untuk membuat program magang, laboratorium bersama dan sertifikasi teknisi yang langsung mengikuti kebutuhan pabrik.

Josua menilai risiko menggunakan teknisi asing memang ada, tetapi tidak menjadi masalah apabila difungsikan murni untuk mempercepat alih teknologi.

"Pada tahap awal, ketergantungan masih dapat dimaklumi, tetapi Indonesia harus semakin lama semakin menguasai produksinya sendiri," ujar Josua.

Ia menilai izin bagi tenaga ahli asing sebaiknya disertai serangkaian kewajiban yang terukur, di antaranya keharusan memiliki pendamping tenaga lokal, batas waktu pergantian posisi, jumlah jam pelatihan minimum, dan target peningkatan persentase tenaga teknis Indonesia setiap tahunnya.

Soal peluang Indonesia untuk memimpin pasar motor listrik, ia memandang untuk pemimpin dunia belum realistis dalam waktu dekat. Sebab, RI akan berhadapan langsung dengan raksasa industri seperti Jepang, Korea Selatan, dan China.

Meski demikian, Indonesia memiliki tiga modal besar sekaligus yang tidak dimiliki semua negara, yaitu bahan baku baterai, pasar sepeda motor domestik yang sangat besar, serta basis manufaktur dan hilirisasi.

Menurut Josua, target yang lebih masuk akal adalah menjadikan Indonesia pusat produksi dan ekspor motor listrik terintegrasi terbesar di Asia Tenggara terlebih dahulu, kemudian naik menjadi pemain dunia.

Untuk menggapai itu, motor nasional harus menang tanpa perlindungan berlebihan dalam lima hal yakni harga, kualitas, jarak tempuh dan usia baterai, jaringan layanan purna jual, serta keandalan.

Setelah itu, ekspor menjadi ujian sebenarnya. Motor yang hanya kompetitif karena subsidi domestik dinilai belum dapat disebut industri yang berdaya saing global.

Selain itu, ada empat risiko besar yang wajib dihindari, yakni ketergantungan pada subsidi permanen, ketergantungan mutlak pada teknologi asing, fokus hanya pada satu jenis senyawa baterai, serta masalah pengelolaan limbah baterai.

Josua pun menyarankan pemerintah mengubah indikator keberhasilan Molinas menjadi indikator kedalaman industrialisasi. Setiap tahun harus dilihat berapa persen komponen strategis yang dibuat di Indonesia, berapa teknisi dan insinyur RI yang menguasai teknologi inti, serta berapa banyak pemasok lokal yang naik kelas.

Kemudian, berapa belanja penelitian dan pengembangan perusahaan, berapa unit yang berhasil diekspor, bagaimana tingkat kerusakan dan keselamatannya, serta berapa banyak baterai yang dapat didaur ulang.

Dengan ukuran seperti itu, Molinas dinilai dapat menjadi alat industrialisasi nasional.

"Tanpa itu, ada risiko program ini menghasilkan banyak motor listrik di jalan, tetapi nilai tambah, teknologi dan pekerjaan berkualitas tinggi justru tetap lebih banyak berada di luar negeri," pungkasnya.

[Gambas:Youtube]

(pta)

HALAMAN:
1 2