ANALISIS

Mencari Mesin Baru Buat Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Prabowo

Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Rabu, 19 Agu 2026 07:52 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/9/2020). Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 mengalami surplus 2,33 miliar dolar AS dengan nilai ekspor 13,07 miliar dolar AS da
Investasi dan Ekspor Harus Jadi Motor Gedor (Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan struktur PDB saat ini sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga sebesar 53,32 persen dan pembentukan modal tetap bruto atau investasi sebesar 29,36 persen.

Melompat ke angka 6 persen dinilai mustahil apabila pertumbuhan konsumsi stagnan di kisaran 5 persen dan investasi hanya sekitar 6 persen.

Josua menekankan kenaikan konsumsi harus berasal dari pendapatan riil masyarakat, bukan sekadar bantuan atau belanja pemerintah yang terus-menerus. Hal ini menjadi krusial mengingat data penjualan eceran riil pada Mei 2026 masih mencatatkan kontraksi 3,9 persen secara tahunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun cara mencapainya bukan dengan memperbesar bantuan secara terus-menerus, melainkan melalui penciptaan pekerjaan formal, kenaikan upah riil, inflasi pangan yang rendah, dan penguatan daya beli kelas menengah," ujarnya.

Selain konsumsi, Josua menyebut investasi sebagai mesin penentu pencapaian target 6 persen. Pemerintah telah menargetkan realisasi penanaman modal pada 2027 sebesar Rp2.322 triliun, naik sekitar 13,8 persen dari target 2026.

Namun, komposisi investasi tersebut harus diubah dari yang saat ini masih didominasi pembangunan fisik dan pembelian kendaraan menuju mesin produksi, pabrik, teknologi, kawasan industri dan kapasitas ekspor.

Agar target ekonomi tercapai, Josua memperkirakan laju investasi riil perlu dipacu hingga tumbuh sekitar 8,0 persen hingga 8,5 persen.

Ia juga menegaskan Danantara seharusnya difungsikan murni sebagai pemancing masuknya modal swasta untuk membiayai industrialisasi, bukan menggantikan peran swasta itu sendiri.

"Danantara seharusnya digunakan sebagai pemancing modal swasta, bukan menggantikannya. Pembiayaan hilirisasi dan industrialisasi tidak sepenuhnya ditanggung APBN, tetapi diarahkan melalui Danantara dan investasi swasta," ujarnya.

Mesin ketiga yang tidak kalah penting adalah membalikkan kinerja ekspor neto dari yang sebelumnya menjadi penghambat menjadi setidaknya netral terhadap pertumbuhan.

Pada kuartal II 2026, laju impor yang melonjak hingga 8,82 persen telah menggerus kinerja ekspor yang tumbuh 4,13 persen.

Secara indikatif, Josua merumuskan kombinasi ideal pencapaian target 6 persen, yakni konsumsi rumah tangga 5,5-5,7 persen, investasi 8,0-8,5 persen, konsumsi pemerintah 5-6 persen, ekspor 8-9 persen, dan impor dijaga di kisaran 6,5-7,5 persen

Angka tersebut bukan persamaan yang harus dipenuhi secara persis karena kontribusi masing-masing komponen berubah mengikuti struktur PDB, persediaan, dan perubahan harga relatif. Namun, besaran itu memberikan gambaran kebutuhan akselerasinya.

Tambahan pertumbuhan terutama harus datang dari investasi sekitar 2-2,5 poin persentase lebih tinggi, konsumsi sekitar 0,4-0,6 poin lebih tinggi, serta ekspor sekitar 1-1,5 poin lebih tinggi.

Ia menegaskan pertumbuhan impor tidak boleh lebih cepat daripada ekspor, dengan catatan yang perlu ditekan adalah ketergantungan pada barang konsumsi, bukan menekan impor bahan baku produktif maupun barang modal.

"Yang harus ditekan bukan impor barang modal dan bahan baku produktif, melainkan ketergantungan terhadap barang konsumsi dan produk yang sebenarnya dapat diproduksi secara efisien di dalam negeri," ujar Josua.

Selain itu, belanja pemerintah dinilai tidak perlu kembali tumbuh dua digit untuk mengejar 6 persen. Konsumsi pemerintah tumbuh 5-6 persen disebut sudah memadai, sepanjang kualitas belanjanya meningkat.

APBN, kata Josua, harus berfungsi sebagai pemicu investasi dan produktivitas melalui irigasi, jalan dan pelabuhan, pendidikan, kesehatan, perumahan, energi serta infrastruktur digital, bukan menjadi mesin pertumbuhan terbesar.

"Ini juga jauh lebih sehat karena pemerintah sekaligus menargetkan defisit turun menjadi 2,4 persen PDB," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

(pta)

HALAMAN:
1 2