Mencari Mesin Baru Buat Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh angka 6 persen pada 2027, lebih tinggi dibandingkan target 2026 yang hanya sebesar 5,4 persen.
Target tersebut dipasang bersama sejumlah asumsi makro dan kebijakan fiskal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Namun, mesin penggerak apa yang harus digunakan pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan 6 persen tersebut?
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai konsumsi rumah tangga memang tetap menjadi jangkar utama karena bobotnya yang paling besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun menurutnya, akselerasi utama harus datang dari investasi produktif, industri manufaktur, dan ekspor bernilai tambah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal II 2026 konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen, investasi 6,87 persen, dan ekspor 4,13 persen.
Syafruddin memandang persoalan konsumsi saat ini berakar pada masalah produktivitas dan efisiensi modal, yang tercermin dari angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia di kisaran 5 hingga 6. Semakin tinggi angka ICOR, maka semakin tidak efisien investasinya alias boros modal.
Ia mengingatkan adanya risiko jika investasi justru memperbesar keran impor tanpa meningkatkan produktivitas dalam negeri. Karena itu, pemerintah perlu memprioritaskan keterlibatan swasta, hilirisasi yang berorientasi ekspor, penyaluran kredit produktif, serta proyek-proyek yang cepat menurunkan biaya logistik.
"Jalur yang diperlukan ialah belanja publik produktif dan Danantara memicu investasi swasta, investasi memperbesar kapasitas industri, lalu produksi, pekerjaan, pendapatan, dan konsumsi menguat," ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/8).
Dari sektor lapangan usaha, Syafruddin menilai target 6 persen tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan sektor jasa yang tumbuh cepat, tetapi berbobot kecil.
Industri pengolahan yang menyumbang sekitar 19 persen PDB harus menjadi mesin utama dengan target pertumbuhan di kisaran 6,5 hingga 7 persen.
Lalu, sektor perdagangan idealnya tumbuh sekitar 6 persen, konstruksi 7-8 persen, informasi dan komunikasi 8-10 persen, serta transportasi dan akomodasi sekitar 7-9 persen.
Sektor pertanian tetap perlu tumbuh 4-5 persen untuk menjaga pendapatan desa dan inflasi pangan, sedangkan pertambangan sebaiknya tidak menjadi sandaran utama karena sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Efek akselerasi ini nantinya akan menyebar luas ke penyerapan tenaga kerja, UMKM, dan penerimaan pajak.