Harga Minyak Turun ke US$93 Jelang Pengumuman Sanksi Baru AS ke Iran
Harga minyak turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan awal Senin (24/8), seiring investor melakukan aksi ambil untung menjelang pengumuman Amerika Serikat (AS) terkait sanksi baru terhadap Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka turun US$1,22 atau 1,29 persen menjadi US$93,17 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,20 atau 1,38 persen ke level US$85,86 per barel.
Kedua kontrak minyak tersebut sebelumnya mencatat kenaikan mingguan kedua secara beruntun. Pada pekan lalu, Brent dan WTI masing-masing menguat lebih dari 5 persen.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah kebuntuan pembicaraan damai antara AS dan Iran. Kondisi tersebut turut membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pergerakan harga minyak pada awal pekan ini dipengaruhi oleh antisipasi pasar terhadap kebijakan baru Washington terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT. Bessent sebelumnya mengancam akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.
Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran.
Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar mengatakan efektivitas kebijakan AS untuk mengisolasi perekonomian Iran masih belum jelas.
"Namun jika langkah AS berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan menjadi risiko yang semakin besar untuk dipertimbangkan pasar energi," tulis Dhar dalam catatannya.
Iran telah mengecam rencana AS untuk menjatuhkan sanksi baru. Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Analis IG Markets Tony Sycamore menilai terdapat perbedaan pandangan di antara para pemimpin Iran mengenai bagaimana merespons tekanan AS.
Menurutnya, kelompok yang lebih pragmatis di Iran cenderung menginginkan de-eskalasi. Sementara kelompok garis keras kemungkinan memilih untuk terus melawan hingga akhir.
"Saya pikir pada akhir pekan ini kita akan memiliki gambaran yang baik mengenai pihak mana dalam kepemimpinan Iran yang lebih unggul," kata Sycamore.
(ldy/pta)