DSI Ungkap Potensi Optimalisasi Ekspor SDA hingga Rp88,4 T per Tahun
PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mengungkapkan potensi optimalisasi nilai ekspor tiga komoditas sumber daya alam (SDA) strategis mencapai US$5 miliar atau senilai Rp88,4 triliun (asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS) per tahun.
Tiga komoditas yang menjadi fokus awal DSI yakni batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan ferroalloy.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan potensi tersebut berdasarkan analisis awal yang dilakukan DSI bersama sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Rosan menjelaskan DSI dibentuk untuk memperkuat transparansi dan tata kelola ekspor sekaligus mengoptimalkan nilai komoditas strategis Indonesia. Namun, DSI tidak mengambil alih fungsi regulator maupun menambah lapisan birokrasi.
"DSI ini bukan bertujuan menambah lapisan birokrasi, atau bukan pula menggantikan peran dari regulator. Ini harus kita garis bawahi. Seluruh fungsi perizinan, pengaturan, dan pengawasan tetap berada pada kementerian atau lembaga yang berwenang," ujar Rosan dalam acara peluncuran DSI di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (24/8).
Menurut Rosan, implementasi DSI dilakukan secara bertahap. Tahap awal dilakukan melalui integrasi data ekspor nasional dan analisis pada tingkat transaksi.
Selanjutnya, kemampuan pemantauan dan verifikasi akan diperluas, antara lain melalui pelacakan kapal, validasi negara tujuan, serta rekonsiliasi devisa hasil ekspor.
DSI juga nantinya menjalankan peran sebagai perantara tunggal untuk komoditas yang masuk dalam mandatnya.
Meski demikian, hubungan komersial antara penjual dan pembeli yang telah berjalan tetap dipertahankan.
Rosan menegaskan langkah tersebut ditujukan untuk memastikan nilai ekonomi SDA Indonesia dapat tercatat dan dioptimalkan secara lebih baik.
"Pada akhirnya, tujuan DSI adalah agar nilai ekonomi dari sumber daya alam strategis Indonesia dapat dicatat dan dioptimalkan dengan lebih baik bagi kepentingan perekonomian nasional dan masyarakat Indonesia," pungkasnya.
(lau/sfr)