ESDM Ungkap 4 Biang Kerok BBM dan LPG Sering Langka
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap empat penyebab utama sering terjadi kelangkaan hingga antrean bahan bakar minyak (BBM) serta LPG di sejumlah daerah.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang memicu gangguan pasokan.
"Memang setelah kita lakukan identifikasi, masih diperlukan kajian-kajian tambahan dan mitigasi lanjut untuk proses pemulihannya. Adapun identifikasi tersebut ada empat penyebab utama terjadinya kelangkaan," ujar Laode dalam Rapat Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).
Pertama, kelangkaan dapat dipicu isu terkait jenis BBM tertentu maupun harga yang kemudian menimbulkan panic buying. Masyarakat membeli BBM secara bersamaan dalam jumlah besar sehingga pasokan di sejumlah titik cepat habis dan memicu antrean.
"Kondisi panic buying ini, masyarakat membeli secara bersamaan sehingga terjadilah kelangkaan dan antrean," katanya.
Kedua, faktor cuaca turut. Kondisi cuaca buruk dapat mengganggu pengiriman melalui jalur laut maupun sungai. Laode menjelaskan kapal pengangkut BBM yang telah tiba di lokasi pun belum tentu dapat langsung melakukan bongkar muat apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan.
"Di sisi sungai tadi di Kalimantan, ini banyak terjadi. Untuk proses distribusi BBM ini dilakukan melalui angkutan-angkutan sungai, dan pada saat ini sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM tersebut," jelasnya.
Lihat Juga : |
Pemerintah kemudian melakukan mitigasi dengan menambah pengiriman menggunakan truk melalui jalur darat. Meski kapasitas angkutan darat tidak sebesar angkutan sungai, penambahan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi antrean akibat gangguan distribusi.
"Memang tidak bisa volumenya sebesar angkutan sungai, tapi ditambah volumenya agar bisa menutupi tantangan-tantangan antrean yang terjadi dikarenakan oleh cuaca," imbuhnya.
Ketiga, bencana alam juga menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat distribusi energi. Laode mencontohkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi saat ini.
Menurutnya, karhutla dapat mengganggu jalur distribusi sehingga pengiriman BBM maupun LPG menjadi lebih lambat dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan antrean.
Keempat, dugaan penyalahgunaan dalam penyaluran BBM bersubsidi. Faktor ini masih dikaji lebih lanjut, termasuk terkait dengan penentuan masyarakat yang berhak memperoleh BBM subsidi.
"Untuk masalah kelangkaan dan antrean ini identifikasi penyebabnya sudah kami lakukan. Sekarang dalam proses kita kaji untuk kita berikan solusi-solusi dalam proses pelaksanaannya," pungkasnya.
(ldy/pta)