INDOEBTEKE CONEX 2026

Pertamina NRE Siap Garap PLTS 100 GW, Minta Dukungan Regulasi

CNN Indonesia
Rabu, 02 Sep 2026 16:51 WIB
PT Pertamina NRE siap mengembangkan PLTS 100 GWp. Direktur Utama John Anis menekankan pentingnya kolaborasi dan dukungan regulasi untuk menarik investasi. (FOTO:CNN Indonesia/Laurent Nabila).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyatakan kesiapan untuk menggarap program pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) yang dicanangkan pemerintah.

Direktur Utama Pertamina NRE John Anis mengatakan pihaknya siap mengambil porsi sebesar mungkin dalam program tersebut. Namun, besaran kapasitas yang akan digarap Pertamina NRE masih menunggu pembagian proyek dari pemerintah dan PLN.

"Kalau kita berbicara target dari Pertamina inginnya sebanyak mungkin. Kalau bisa 100 gigawatt ya 100 gigawatt. Kita siap, tapi kan tidak realistis ya. Nanti kita bagi-bagi kue itu nanti juga dengan PLN yang mengatur seperti apa bagaimana," kata John kepada CNNIndonesia.com di sela IndoEBTKE ConEx ke-12 di Jakarta, Rabu (2/9).

John menekankan kesiapan menjadi kunci agar target PLTS 100 GWp dapat dieksekusi dalam waktu yang relatif singkat. Menurutnya, pembangunan proyek energi terbarukan membutuhkan kolaborasi karena Indonesia masih menghadapi keterbatasan teknologi dan rantai pasok dalam negeri.

"Jadi kesiapan itu harus mencakup semua bidang. Karena enggak mudah nih untuk development ini harus ujung-ujung. Tadi Bu Dirjen juga menyampaikan materialnya pun itu harus diproduksi di Indonesia dan itu kan harus disiapkan. Kita harus jujur juga teknologinya belum di Indonesia. Ya itu harus kolaborasi, kerja sama, MoU tadi," ujarnya.

Ia mengatakan salah satu tantangan utama pengembangan energi terbarukan adalah keekonomian proyek. Karena itu, Pertamina NRE mendorong kepastian regulasi dan dukungan pemerintah agar proyek EBT semakin menarik bagi investor.

John mencontohkan pengembangan bioetanol yang membutuhkan kepastian penggunaan melalui kebijakan mandatory blending. Selain itu, ia menyoroti harga indeks pasar (HIP) yang dinilainya sudah terlalu lama tidak diperbarui sehingga dapat mengurangi daya tarik investasi.

Di sisi lain, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Norman Ginting menilai program 100 GWp akan menciptakan permintaan besar terhadap industri EBT sekaligus membuka peluang investasi.

"Program meng-create demand. Demand pasti akan me-create pertumbuhan. Kita bisa melihat kalau angka, ya saya pikir akan sangat fantastis," kata Norman kepada CNNIndonesia.com.

Norman mengatakan besarnya investasi yang dibutuhkan juga harus diikuti dengan penguatan industri dalam negeri, termasuk kesiapan teknologi dan sumber daya manusia.

"Jadi EBT itu bukan hanya menghadirkan energi, tapi mendorong pertumbuhan ekonomi. Jadi didorong oleh energi baru terbarukan. So it's a very good momentum," ujarnya.

Menurut Norman, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan program-program strategis pemerintah seperti PLTS 100 GWp, B50, E20, dan waste to energy dapat dieksekusi.

"Jadi saya bilang ini tentang kolaborasi lintas sektor yang perlu dipererat, koordinasi yang perlu diperbaiki," katanya.

(lau/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK