Prabowo Sebut Danantara Jadi Jembatan Investasi RI-Rusia
Presiden Prabowo Subianto mengatakan Danantara dapat menjadi jembatan bagi pertemuan kepentingan pasar modal dan tujuan investasi strategis Indonesia dengan Rusia.
Hal itu disampaikan Prabowo saat menjadi Tamu Kehormatan Utama dalam Forum Ekonomi Timur (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9).
Prabowo mengatakan Indonesia telah membentuk Danantara sebagai sovereign wealth fund dengan aset kelolaan mencapai US$1 triliun atau senilai Rp17.670 triliun (kurs Rp17.670). Menurutnya, Danantara dapat menjadi penghubung antara modal Rusia dan Indonesia untuk membiayai berbagai proyek strategis.
"Danantara dapat bertindak sebagai jembatan tempat pasar modal dan tujuan strategis Rusia dan Indonesia bertemu," kata Prabowo dalam pidatonya.
Ia mengatakan Danantara dan sovereign wealth fund Rusia yakni Russian Direct Investment Fund (RDIF), dapat meningkatkan kerja sama dari tahap identifikasi peluang menuju pembiayaan proyek yang dinilai layak secara finansial.
"Danantara dan sovereign wealth fund Rusia, Russian Direct Investment Fund atau RDIF, dapat bergerak dari mengidentifikasi berbagai peluang menuju pembiayaan proyek-proyek yang bankable," ujarnya.
Prabowo juga menekankan setiap kesepakatan investasi yang diumumkan harus memiliki kejelasan mengenai nilai investasi, skema pembiayaan, serta target pelaksanaannya.
"Setiap kesepakatan yang diumumkan harus mencantumkan nilainya, pembiayaannya, dan tahapan pelaksanaannya," tutur Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga secara langsung mengajak pelaku usaha Rusia berinvestasi dan membangun industri bersama di Indonesia.
"Jadi saya katakan secara langsung kepada para pelaku usaha Rusia: datanglah ke Indonesia, bekerja bersama kami, berproduksilah bersama kami, mari kita bangun industri bersama, mari kita menciptakan nilai bersama," kata Prabowo.
"Dan dari Indonesia, mari kita menjangkau pasar yang lebih luas di ASEAN dan Indo-Pasifik bersama-sama," lanjutnya.
Menurut Prabowo, kerja sama ekonomi kedua negara menjadi semakin penting di tengah kondisi global yang menghadapi fragmentasi perdagangan, rantai pasok, dan sistem keuangan.
"Kita bertemu pada saat yang sulit. Saat ini perdagangan berkali-kali digunakan sebagai senjata. Rantai pasok dibentuk kembali berdasarkan kecurigaan. Keuangan terpecah berdasarkan geografi," ujarnya.
Ia menilai berbagai bentuk kerja sama di bidang pangan, energi, sains, logistik, dan perdagangan dapat menjadi jembatan untuk menghadapi fragmentasi tersebut.
"Justru karena dunia sedang terfragmentasi, setiap jembatan yang dibangun di sini dalam bidang pangan, energi, sains, logistik, dan perdagangan merupakan jawaban praktis," pungkas Prabowo.
Prabowo sebelumnya bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9). Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan terima kasih kepada Putin karena telah mengundang Indonesia sebagai Tamu Kehormatan Utama dalam EEF ke-11.
(lau/ins)