Jakarta, CNN Indonesia -- Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9) pagi di perairan Selat Sunda tak hanya berdampak di sekitar gunung. Abu vulkanik bergerak hingga Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan.
Gangguan juga merembet ke transportasi udara. Hingga 7 September, sebanyak 2.961 penerbangan dan sekitar 341 ribu penumpang terdampak.
Lantas, sejauh apa efek berantai erupsi Anak Krakatau terhadap perekonomian Indonesia? Apakah gangguan penerbangan bisa merembet ke pariwisata, logistik, hingga harga barang? Dan apa yang perlu dilakukan pemerintah jika gangguan berlangsung lebih lama?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan dampak ekonomi erupsi Anak Krakatau tidak berhenti di sektor penerbangan.
Pariwisata, hotel, restoran, transportasi, agen perjalanan, perdagangan ritel, jasa acara, dan UMKM destinasi menjadi sektor yang paling cepat terdampak karena pembatalan perjalanan langsung menghilangkan transaksi harian.
"Jika wisatawan menunda perjalanan, tingkat hunian turun, pesanan makanan berkurang, armada wisata menganggur, dan pekerja harian kehilangan pendapatan," kata Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/9).
Menurutnya, usaha dengan biaya tetap tinggi tetapi mengandalkan arus kas harian menjadi yang paling rentan. Gangguan beberapa hari saja dapat berubah menjadi persoalan likuiditas.
[Gambas:Youtube]
Dari sisi logistik, gangguan muncul melalui pembatalan penerbangan, perubahan rute, dan penumpukan barang pada moda alternatif. Cargo udara untuk komoditas bernilai tinggi, mudah rusak, obat-obatan, komponen manufaktur, dan kiriman ekspres menjadi yang paling sensitif.
"Ketika ruang udara ditutup, barang berpindah ke jalur darat atau laut, waktu tempuh bertambah, biaya penyimpanan naik, dan jadwal produksi dapat terganggu," ujarnya.
Gangguan beberapa hari masih dapat diserap melalui stok dan fleksibilitas jaringan. Namun, jika berlangsung lebih lama, biaya logistik meningkat dan usaha kecil paling cepat terdampak karena memiliki modal kerja dan kapasitas logistik yang lebih terbatas.
Syafruddin mengatakan pekerja harian, pengemudi, pedagang kecil, pemandu wisata, pekerja restoran, pemilik homestay, nelayan wisata, dan UMKM menjadi kelompok paling rentan.
"Mereka tetap menanggung cicilan, sewa, dan kebutuhan rumah tangga ketika pelanggan menghilang," katanya.
Menurutnya, kerugian juga harus dilihat dari kehilangan pendapatan masyarakat dan pelaku usaha, bukan hanya kerusakan aset.
Terkait inflasi, Syafruddin mengatakan gangguan transportasi beberapa hari belum otomatis memicu inflasi nasional. Namun, kenaikan harga lokal dan komoditas tertentu tetap perlu diwaspadai karena pasokan terlambat dan ongkos angkut meningkat.
"Tekanan akan lebih kuat pada pangan segar, obat, barang bernilai tinggi, dan wilayah yang sangat bergantung pada konektivitas udara," jelasnya.
Jika gangguan berlangsung singkat dan bandara kembali normal, kenaikan harga cenderung sementara. Namun, penutupan berulang dapat membuat perusahaan menggunakan rute lebih mahal dan menambah stok, yang kemudian berpotensi diteruskan kepada konsumen.
Dalam jangka pendek, Syafruddin menilai dampak nasional masih terbatas apabila gangguan cepat mereda. Namun, efek sektoral dan regional dapat cukup tajam.
"Ancaman terbesar bagi pertumbuhan bukan satu episode abu vulkanik, melainkan kegagalan mengubah kejadian berulang menjadi pembelajaran institusional," ujarnya.
Dalam jangka panjang, erupsi berulang dapat meningkatkan biaya asuransi dan logistik serta premi risiko bagi destinasi wisata dan investor. Sebaliknya, perbaikan sistem peringatan, diversifikasi rute, dan ketahanan infrastruktur dapat mengurangi dampak permanen.
Untuk mencegah dampak meluas, Syafruddin mendorong pemerintah mengintegrasikan informasi PVMBG, BMKG, AirNav, bandara, pelabuhan, maskapai, dan pemerintah daerah. Jalur transportasi alternatif juga perlu disiapkan, sementara UMKM dan pekerja informal terdampak perlu mendapat dukungan sementara secara terarah.
"Ukuran keberhasilan bukan sekadar bandara kembali dibuka, melainkan seberapa cepat arus manusia, barang, pendapatan, dan kepercayaan pulih tanpa menciptakan biaya fiskal permanen," kata Syafruddin.
Efek Berantai Erupsi Anak Krakatau Menjalar ke Ekonomi RI
Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak luas, mengganggu penerbangan dan perekonomian. Ekonom mengingatkan risiko bagi beberapa sektor terkait. (FOTO:CNN Indonesia/Febria Adha L).
Sementara itu, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan sektor yang terdampak selain penerbangan antara lain pariwisata, transportasi dan logistik, perdagangan, perikanan, serta usaha jasa di wilayah terdampak abu vulkanik.
"Pariwisata sangat sensitif karena wisatawan cenderung menunda perjalanan ketika akses dan keamanan terganggu. Perikanan juga bisa terdampak apabila aktivitas melaut, pelabuhan, atau kualitas lingkungan laut terganggu," kata Ronny.
Industri manufaktur juga berpotensi terdampak, terutama yang bergantung pada pasokan bahan baku dengan sistem just-in-time. Menurutnya, efek erupsi perlu dilihat dari multiplier effect.
"Satu penerbangan yang dibatalkan bukan hanya merugikan maskapai, tetapi juga mengurangi aktivitas hotel, restoran, transportasi darat, perdagangan dan jasa lainnya," ujarnya.
Kelompok paling rentan adalah masyarakat dan pelaku usaha di wilayah terdampak, termasuk maskapai, hotel, restoran, agen perjalanan, UMKM pariwisata, nelayan, pedagang, perusahaan logistik, dan pekerja harian.
"Bagi pekerja informal, satu atau dua hari kehilangan aktivitas bisa langsung berarti kehilangan pendapatan karena mereka tidak memiliki buffer keuangan yang besar," katanya.
Ronny mengatakan gangguan penerbangan juga dapat menghambat pengiriman barang melalui kargo udara serta mobilitas tenaga kerja, teknisi, pemasok, dan pelaku bisnis. Dampaknya lebih besar bagi barang bernilai tinggi, mudah rusak, atau time-sensitive.
Namun, gangguan penerbangan tidak otomatis mengganggu seluruh distribusi nasional karena Indonesia memiliki sistem logistik multimoda.
"Masalah muncul kalau gangguan berlangsung lama dan terjadi bottleneck pada moda alternatif seperti kapal, kereta atau transportasi darat. Jadi yang harus dilihat adalah kapasitas substitusi antarmoda," jelasnya.
[Gambas:Photo CNN]
Ia mengatakan gangguan berkepanjangan juga berpotensi mendorong inflasi karena perusahaan harus menggunakan jalur alternatif yang lebih mahal.
"Biaya tambahan tersebut pada akhirnya dapat diteruskan ke harga jual, terutama apabila perusahaan tidak memiliki margin yang cukup untuk menyerap kenaikan biaya," ujarnya.
Meski begitu, Ronny menegaskan erupsi tidak otomatis menimbulkan inflasi nasional signifikan. Dalam jangka pendek, dampak yang lebih mungkin terasa adalah kenaikan harga atau kelangkaan lokal pada barang tertentu.
Dalam jangka pendek pula, dampak nasional terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan terbatas apabila wilayah dan durasi gangguan kecil. Namun, gangguan yang berkepanjangan dan meluas dapat menekan konsumsi, investasi, perdagangan, dan produktivitas.
Untuk jangka panjang, dampaknya dapat menjadi struktural jika bencana berulang tidak diikuti peningkatan ketahanan ekonomi.
"Jadi yang perlu dihindari adalah temporary shock berubah menjadi permanent economic scarring," katanya.
Ronny mendorong pemerintah fokus menjaga mobilitas, rantai pasok, dan daya beli masyarakat terdampak. Pemerintah perlu menyiapkan jalur transportasi alternatif, memprioritaskan distribusi pangan, energi, obat-obatan, dan kebutuhan dasar, serta memberikan dukungan terarah kepada usaha dan masyarakat yang kehilangan pendapatan.
Ia juga mendorong pemerintah membangun crisis logistics dashboard yang mengintegrasikan informasi penerbangan, pelabuhan, jalan, stok pangan, harga komoditas, dan kapasitas distribusi.
"Jangan menunggu harga naik baru bertindak. Pemerintah harus bergerak berdasarkan early warning," ujarnya.
Menurut Ronny, besarnya dampak ekonomi tidak hanya ditentukan oleh erupsi, tetapi juga kualitas respons pemerintah.
"Bencana alam tidak selalu bisa dicegah, tetapi efek ekonominya bisa diminimalkan," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]