EDUKASI KEUANGAN

Tips Siapkan Dana Darurat untuk Hadapi Bencana

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Sabtu, 12 Sep 2026 09:00 WIB
Menyiapkan dana darurat menjadi upaya penting agar kondisi keuangan tetap terjaga saat seseorang menghadapi bencana. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bencana bisa datang kapan saja dan tidak selalu bisa diprediksi. Karena itu, menyiapkan dana darurat menjadi salah satu langkah penting agar kondisi keuangan tetap terjaga saat bencana melanda.

Perencana keuangan menilai tidak ada kata pernah ada kata terlambat untuk mulai menyiapkan dana darurat, termasuk dana untuk menghadapi risiko bencana.

Lalu, bagaimana cara menyiapkannya?

1. Mulai Kumpulkan Dana Darurat Sekarang

Tidak perlu menunggu kondisi keuangan ideal untuk mulai menyiapkan dana darurat. Kesadaran bahwa bencana maupun kondisi darurat lainnya dapat terjadi kapan saja seharusnya menjadi pemicu untuk mulai menyisihkan penghasilan.

Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan waktu yang paling tepat memulai dana darurat adalah ketika seseorang mulai menyadari bahwa risiko bencana juga dapat terjadi pada dirinya.

"Waktu yang paling tepat untuk memulainya adalah ketika kita mulai menyadari bahwa kondisi-kondisi seperti jawaban pertanyaan nomor satu itu bisa terjadi juga pada kita, maka kita mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat tersebut," kata Andi kepada CNNIndonesia.com.

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menambahkan kesadaran tersebut perlu segera diikuti tindakan nyata.

Menurut dia, tidak ada gunanya memahami pentingnya dana darurat jika tidak mulai menyisihkan uang untuk membentuknya.

2. Simpan di Instrumen Mudah Cair

Dana darurat berbeda dengan dana investasi yang memang ditujukan untuk mengejar keuntungan dalam jangka panjang. Karena bisa dibutuhkan sewaktu-waktu, dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif rendah risiko dan mudah dicairkan.

Andi menyebut beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan, seperti rekening bank, deposito, logam mulia, hingga reksa dana berbasis pasar uang atau pendapatan tetap.

"Selayaknya dana darurat pada umumnya, maka dana untuk bencana juga sebaiknya disimpan di instrumen investasi yang berisiko rendah dan gampang untuk dicairkan kembali," ujarnya.

Menurut Andi, karakter tersebut penting agar masyarakat dapat segera menggunakan dana ketika keadaan darurat terjadi tanpa harus khawatir nilai aset sedang turun akibat risiko investasi.

Dandy juga menyarankan dana darurat ditempatkan pada instrumen yang paling likuid, seperti rekening bank. Uang tunai juga dapat disiapkan dalam jumlah tertentu, tetapi memiliki risiko tersendiri jika disimpan terlalu banyak.

"Tempat simpan paling disarankan adalah yang paling likuid ya, bisa dimasukkan ke bank atau berupa uang tunai. Namun uang tunai berisiko kalau di keadaan mendesak," ujar Dandy.

Ia mengingatkan masyarakat tidak menggunakan instrumen berisiko tinggi seperti saham sebagai tempat menyimpan dana darurat.

"Sangat tidak disarankan untuk masukkan dana darurat ke saham atau untuk cari keuntungan ke instrumen yang high risk," ujarnya.

3. Minimal Tiga Kali Penghasilan atau Pengeluaran

Besaran dana darurat yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Namun, Andi menyebut idealnya seseorang memiliki dana darurat minimal sebesar tiga kali penghasilan bulanan.

"Jadi idealnya kita memiliki dana darurat itu minimal sebesar 3x penghasilan bulanan kita," katanya.

Sementara Dandy menggunakan acuan tiga kali pengeluaran bulanan untuk dana darurat. Artinya, kebutuhan dana darurat dapat dihitung berdasarkan pengeluaran rutin yang harus tetap dibayarkan ketika terjadi kondisi darurat.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Asuransi Sebagai Pelengkap


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :