ANALISIS

Sederet PR Berat di Pundak Menkeu Baru Suahasil Nazara

Muhammad Falah Nafis | CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 07:50 WIB
Menteri Keuangan Suahasil Nazara  dan Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat acara Serah Terima Jabatan Menteri Keuangan di Gedung Juanda II, Kementerian Kuangan, Jakarta, Selasa (15/09/2026). CNNIndonesia/Adhi Wicaksono
Warisan Menkeu Lama, Lanjut atau Setop? (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai warisan kebijakan menkeu sebelumnya sebaiknya dinilai berdasarkan hasil terukur, sebelum menentukan kebijakan itu diteruskan atau dihentikan oleh Suahasil.

Menurutnya, reformasi perpajakan dan bea cukai, penguatan Coretax, peningkatan kepatuhan, transparansi APBN, penajaman belanja, serta kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) memiliki tujuan yang konsisten dengan kebutuhan memperkuat penerimaan dan kredibilitas fiskal. Ini patut dilanjutkan.

Kemudian, kebijakan yang menggunakan neraca pemerintah atau likuiditas publik untuk mendorong pertumbuhan perlu diuji lebih ketat terhadap additionality, risiko, dan biaya peluang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Syafruddin mencontohkan soal penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebanyak Rp200 triliun di bank perlu dievaluasi dari dampaknya terhadap kredit produktif, bukan sekadar pertumbuhan likuiditas semata.

"Kerangka yang tepat adalah mempertahankan kebijakan yang terbukti memperkuat penerimaan, efisiensi, dan stabilitas, memperbaiki desain yang hasilnya campuran, serta menghentikan instrumen yang manfaat marginalnya lebih kecil daripada risiko fiskalnya," ucap Syafruddin.

Ia yakin evaluasi berbasis hasil tersebut dapat mengurangi risiko perubahan kebijakan yang terlalu reaktif ke depannya.

Syafruddin berpandangan Indonesia saat ini membutuhkan menkeu yang mampu menjalankan tiga fungsi sekaligus, yakni penjaga kredibilitas, perancang pembiayaan pembangunan, dan pengelola risiko.

Ia menyebut tantangan utamanya bukan memilih antara ekspansi dan disiplin, melainkan memastikan ambisi pembangunan tidak menciptakan kewajiban yang melampaui kemampuan pendapatan negara.

Syafruddin menilai sosok yang efektif tersebut perlu menguasai detail fiskal, mampu berkomunikasi kepada Presiden, DPR, pasar, dan publik, serta berani meminta bukti manfaat sebelum anggaran diperbesar.

"Ia juga harus menjaga jarak profesional dari kepentingan sektoral tanpa menganggap Kemenkeu sebagai lembaga yang terpisah dari pemerintah. Independensi yang relevan di sini adalah integritas teknokratis: keputusan harus berbasis data, aturan, dan analisis risiko," jelasnya.

Ujian terbesar, terang dia, muncul ketika pertumbuhan melambat atau pasar menuntut premi risiko lebih tinggi.

"Pada saat itu, kredibilitas dibangun bukan melalui retorika, tetapi melalui kemampuan menetapkan prioritas, membuka trade-off secara transparan, dan menjaga agar APBN tetap punya ruang menghadapi krisis berikutnya," kata Syafruddin.

[Gambas:Video CNN]

(pta)

HALAMAN:
1 2