ANALISIS

Menguak Misteri Kenapa Haji Isam Berani Tawar Saham Bayan Harga Murah

Laurent Nabila ZT | CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 07:25 WIB
Bayan Resources
Ujian Transparansi Pasar Modal. (Foto: Tangkapan layar web bayan.com)

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai harga pembelian oleh Haji Isam jika benar Rp2.538 maka selisihnya dengan harga pasar sangat besar dan perlu dijelaskan.

Namun, ia menekankan transaksi blok memiliki karakteristik berbeda dari perdagangan reguler. Diskon dapat muncul karena ukuran blok, struktur pengendalian, kondisi perusahaan, risiko, hingga berbagai kondisi dalam perjanjian.

"Diskon terhadap harga pasar tidak otomatis berarti pelanggaran. Namun kalau diskonnya sangat ekstrem, pasar tentu berhak meminta penjelasan mengenai dasar valuasinya," ujar Ronny.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlebih, saham yang dialihkan mencapai sekitar 10 miliar lembar atau 30 persen saham Bayan. Menurutnya, publik perlu mengetahui apakah harga tersebut benar-benar mencerminkan nilai ekonomis blok saham atau ada faktor lain yang belum diketahui.

Ronny juga menegaskan angka Rp2.538 masih merupakan angka yang beredar di pemberitaan, belum dikonfirmasi sebagai harga final melalui keterbukaan informasi.

Soal timing transaksi dan penerbitan RKAB, Ronny menyebut hal itu memang sensitif dari sisi tata kelola, meski tidak otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat. Namun, karena waktunya berdekatan dan nilai ekonominya material, publik membutuhkan informasi yang dapat menelusuri proses penerbitan RKAB.

"Kapan permohonan RKAB diajukan, kapan evaluasinya selesai, apa persyaratan yang sebelumnya belum terpenuhi, dan kapan keputusan substantif sebenarnya dibuat," katanya.

"Semakin sensitif timing-nya, semakin tinggi kebutuhan disclosure-nya," lanjut Ronny.

Ronny juga menilai tekanan terhadap harga saham Bayan tidak bisa dikaitkan hanya dengan transaksi Haji Isam. Ketidakpastian RKAB, force majeure, profit taking setelah lonjakan awal, hingga penilaian ulang terhadap struktur kepemilikan baru dapat memengaruhi harga.

"Saham BYAN bahkan sempat melonjak 20 persen pada 18 September setelah kabar terkait RKAB, sebelum kemudian kembali tertekan," ujarnya.

Menurut Ronny, pergerakan tersebut dapat mencerminkan proses price discovery ulang ketika pasar menghitung kembali nilai BYAN berdasarkan prospek produksi, harga batu bara, RKAB, struktur kepemilikan, dan risiko tata kelola.

Ia menilai potensi dampak terhadap kredibilitas pasar modal memang ada, tetapi belum tepat langsung menyimpulkan transaksi tersebut memengaruhi price discovery atau merupakan manipulasi.

"Karena pasar modal yang sehat bukan pasar yang melarang setiap transaksi dengan harga berbeda dari pasar, tapi pasar yang mampu menjelaskan mengapa perbedaan itu terjadi," katanya.

Ronny melihat kasus BYAN menjadi tantangan sekaligus momentum bagi reformasi struktural pasar modal, terutama dalam memperkuat transparansi transaksi afiliasi, perlindungan investor minoritas, keterbukaan perubahan pengendalian, dan kualitas price discovery.

Menurutnya, yang perlu dijawab bukan hanya soal satu transaksi, melainkan bagaimana harga ditentukan, siapa yang memperoleh manfaat ekonominya, dan apakah investor publik memperoleh informasi yang sama secara tepat waktu. Regulator juga harus memastikan seluruh rangkaian transaksi dapat diaudit secara transparan.

"Kalau tiga hal itu dapat dijawab dengan transparan, kasus ini justru bisa menjadi momentum memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia," ujarnya.

"Dalam pasar modal, yang paling mahal bukan volatilitas harga, tapi hilangnya kepercayaan bahwa semua investor bermain di lapangan dengan informasi dan aturan yang fair," pungkas Ronny.

[Gambas:Youtube]

(pta)

HALAMAN:
1 2