ANALISIS

Strong Dollar Menghantam Rupiah, Apa yang Harus Dilakukan RI?

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 07:22 WIB
Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.002 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jakarta, 18 April 2019. Rupiah melesat 0,59 persen terhadap dolar AS dibandingkan Selasa (16/4) di angka Rp14.085 per dolar AS. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Penguatan dolar AS jadi tantangan bagi Bank Indonesia, di tengah tren suku bunga tinggi The Fed dan inflasi global memengaruhi rupiah dan ekonomi Indonesia. (FOTO:CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Penguatan dolar AS atau strong dollar menjadi salah satu tantangan yang kembali disoroti Bank Indonesia (BI) di tengah tekanan terhadap rupiah. Kondisi itu terjadi ketika bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75-4 persen dan masih membuka peluang kenaikan satu kali lagi pada kuartal IV 2026.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan kenaikan suku bunga AS dan inflasi global yang mencapai 4,6 persen mendorong penguatan dolar terhadap mata uang dunia. Kondisi tersebut diperparah kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik.

"Belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunga 25 bps dan kami masih perkirakan satu kali lagi di kuartal IV. Ini mendorong penguatan pada dolar ke mata uang kuat lainnya, DXY capai 101,11, di Asia 96,26," ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (28/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, Jumat (25/9) posisi rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di Rp17.917 per dolar AS. BI menilai kondisi global tersebut dapat memengaruhi neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar Indonesia.

Lantas, kondisi apa yang sebenarnya sedang dihadapi Indonesia? Apa dampak langsung dan tidak langsung strong dollar terhadap perekonomian? Serta bagaimana BI dan pemerintah seharusnya merespons tekanan tersebut, baik di jangka pendek maupun panjang?

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita mengatakan kondisi saat ini bukan hanya mencerminkan penguatan dolar AS, tetapi juga meningkatnya permintaan terhadap aset-aset berdenominasi dolar.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil aset AS, ketidakpastian global, risiko geopolitik, dan kecenderungan investor mencari aset yang dianggap lebih aman mendorong permintaan terhadap dolar.

[Gambas:Youtube]

"Yang sedang kita hadapi adalah kombinasi antara strong dollar dan strong demand for dollar assets. Dolar AS menguat terhadap banyak mata uang karena yield aset AS meningkat, ketidakpastian global tinggi, risiko geopolitik meningkat, dan investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman," kata Ronny kepada CNNIndonesia.com, Senin (28/9).

Ia menilai kondisi tersebut merupakan external shock yang cukup kuat bagi Indonesia. Namun, tekanan global tidak berarti faktor domestik dapat diabaikan.

Menurut Ronny, persepsi terhadap kondisi fiskal, neraca eksternal, dan kredibilitas kebijakan tetap menentukan seberapa besar tekanan global akan diteruskan ke rupiah.

Dampak paling cepat, kata dia, terlihat dari kenaikan harga barang dan input impor. Indonesia masih bergantung pada impor energi, bahan baku, barang modal, dan berbagai kebutuhan produksi.

Ketika dolar menguat, harga barang tersebut dalam rupiah ikut meningkat. Tekanan menjadi lebih besar ketika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia.

"Kalau harga minyak global juga tinggi, tekanannya menjadi dobel, di mana harga komoditas naik sekaligus rupiah melemah," ujarnya.

Dolar yang menguat juga meningkatkan beban kewajiban dalam valuta asing, baik pemerintah maupun korporasi. Investor asing berpotensi melakukan penyesuaian portofolio dari aset negara berkembang ke aset dolar.

Kondisi tersebut dapat menekan rupiah, pasar surat berharga negara (SBN), dan saham. Biaya lindung nilai atau hedging valuta asing serta pembiayaan eksternal juga berpotensi meningkat.

Namun, dampaknya tidak sepenuhnya negatif. Eksportir yang menerima pendapatan dalam dolar dapat memperoleh penerimaan rupiah lebih besar, terutama ketika harga komoditas ekspor masih kuat.

"Strong dollar menciptakan redistribusi dampak. Eksportir tertentu bisa mendapatkan windfall, sementara importir dan sektor yang sangat bergantung pada input impor menghadapi tekanan biaya," jelas Ronny.

Dalam jangka pendek, Ronny menilai tugas utama BI adalah mencegah pelemahan rupiah berubah menjadi depresiasi yang tidak terkendali atau memunculkan ekspektasi pelemahan secara terus-menerus.

Karena itu, kombinasi intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), non-deliverable forward (NDF), operasi moneter, serta instrumen untuk menarik arus modal masuk masih relevan.

Meskipun begitu, Bank Sentral dinilai tidak perlu mempertahankan level tertentu secara kaku.

"Yang lebih penting adalah menjaga stabilitas volatilitas dan memastikan pasar valas tetap berfungsi," kata Ronny.

Ia menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih memberikan ruang bagi BI untuk menghadapi tekanan eksternal. Cadangan devisa tercatat sekitar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 atau setara 5,4 bulan impor.

Beban Jaga Rupiah Tak Hanya Milik Bank Indonesia BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2