ANALISIS

Strong Dollar Menghantam Rupiah, Apa yang Harus Dilakukan RI?

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 07:22 WIB
Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9).
Penguatan dolar AS jadi tantangan bagi Bank Indonesia, di tengah tren suku bunga tinggi The Fed dan inflasi global memengaruhi rupiah dan ekonomi Indonesia. (FOTO:CNN Indonesia/Laurent Nabila Zahra Tanjung).

Di sisi lain, pemerintah tidak bisa menyerahkan seluruh beban stabilisasi rupiah kepada BI. Pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal, memperkuat penerimaan devisa, mempercepat ekspor bernilai tambah, menarik investasi asing langsung yang menghasilkan devisa, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Menurut Ronny, tekanan strong dollar juga perlu dilihat sebagai momentum untuk mengurangi ketergantungan struktural terhadap dolar AS.

Caranya bukan dengan melawan dolar, melainkan memperkuat fundamental ekonomi. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, pendalaman pasar keuangan rupiah, perluasan transaksi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT), serta penguatan industri substitusi impor yang ekonomis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi saya melihat strong dollar sebagai stress test bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Kalau fundamental kita kuat, tekanan kurs akan menjadi shock yang bisa dikelola. Tetapi kalau kita terlalu bergantung pada impor, capital inflow jangka pendek dan penerimaan komoditas mentah, strong dollar akan memperlihatkan titik-titik kerentanan kita," ujar Ronny.

Sementara itu, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi melihat penguatan dolar saat ini sebagai kombinasi antara kenaikan suku bunga AS, ekspektasi kebijakan moneter global yang tetap tinggi dalam waktu lebih lama, dan meningkatnya risiko geopolitik.

Menurutnya, kondisi tersebut pada dasarnya merupakan perubahan persepsi terhadap risiko global. Ketika imbal hasil aset dolar meningkat, investor akan meminta kompensasi lebih besar untuk memegang aset negara berkembang.

"Ini bukan sekadar cerita dolar kuat, tetapi perubahan harga risiko global. Ketika return aset dolar naik, investor meminta kompensasi lebih besar untuk memegang aset emerging market," kata Syafruddin.

Ia menilai Indonesia tengah menghadapi tekanan tambahan karena kebutuhan devisa untuk impor energi meningkat ketika harga minyak dunia juga tinggi.

Dalam jangka pendek, dampaknya tidak berhenti pada nilai tukar. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya energi, bahan baku, dan barang modal, sekaligus mendorong inflasi impor.

Investor asing juga memperhitungkan potensi depresiasi rupiah ketika menempatkan dana di SBN. Akibatnya, imbal hasil yang diminta investor dapat meningkat.

Jika tekanan berlangsung lebih lama, dampaknya dapat merembet ke sektor riil. Perusahaan bisa menaikkan harga atau menekan margin untuk menyerap kenaikan biaya. Rumah tangga berpotensi mengurangi konsumsi, perbankan lebih berhati-hati menyalurkan kredit, dan investasi dapat tertunda.

"Jika pertumbuhan ekonomi terus menciptakan kebutuhan dolar lebih cepat daripada kapasitas ekspor dan penerimaan devisa, depresiasi menjadi masalah struktural," ujar Syafruddin.

Karena itu, Syafruddin menilai BI perlu mempertahankan policy mix dan tidak menjadikan kenaikan suku bunga sebagai respons pertama setiap kali rupiah tertekan.

BI Rate yang kini berada di level 5,75 persen dinilai masih memberikan daya tarik bagi aset rupiah. Sementara inflasi umum 3,19 persen dan inflasi inti sekitar 2 persen memberikan ruang bagi BI untuk menggunakan instrumen yang lebih terarah.

"Prioritasnya ialah intervensi valas yang terukur, memperluas swap dan DNDF lindung nilai, memperdalam pasar uang-valas, memperkuat LCT, serta menjaga likuiditas agar stabilisasi kurs tidak memukul kredit terlalu keras," katanya.

Menurut Syafruddin, pemerintah juga perlu menangani sumber kebutuhan dolar. Hal itu dapat dilakukan dengan menekan ketergantungan impor energi, menjaga kredibilitas fiskal, mempercepat ekspor bernilai tambah, serta menarik investasi asing yang menghasilkan devisa.

Dalam jangka panjang, ketahanan rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia memperkuat sektor eksternal.

Ekspor manufaktur, investasi asing yang berorientasi ekspor, dan substitusi impor energi dapat mengurangi kerentanan terhadap gejolak dolar.

"Trade-off-nya jelas: suku bunga yang terlalu tinggi membantu rupiah tetapi menekan investasi dan pertumbuhan. Karena itu, keberhasilan kebijakan harus diukur dari stabilitas rupiah yang dicapai dengan biaya sekecil mungkin terhadap kredit, pekerjaan, dan pertumbuhan," pungkas Syafruddin.

[Gambas:Video CNN]

(ins)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2