Airlangga: Ekonomi Tetap Tangguh, Inflasi Terjaga, Manufaktur Ekspansi

Kemenko Perekonomian | CNN Indonesia
Jumat, 02 Okt 2026 14:15 WIB
Foto: Arsip Kemenko Perekonomian.
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan positif pada September 2026. Inflasi masih berada dalam sasaran, sektor manufaktur kembali masuk zona ekspansi, sementara neraca perdagangan mencatat surplus yang meningkat signifikan pada Agustus.

Data yang dirilis pemerintah pada Kamis (1/10) menunjukkan inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Inflasi inti tercatat 2,84 persen yoy. Sementara itu, inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) berada di level 3,25 persen yoy.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut tekanan pada kelompok volatile food masih perlu diwaspadai. Inflasi kelompok tersebut mencapai 5,03 persen yoy, antara lain dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.

Pemerintah menyatakan pengendalian inflasi dilakukan melalui koordinasi pemerintah pusat, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah. Sejumlah langkah juga disiapkan untuk menjaga pasokan dan daya beli masyarakat memasuki kuartal IV 2026.

Program yang disiapkan antara lain penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III, bantuan pangan beras sebanyak 10 kilogram per bulan pada Oktober hingga Desember 2026, serta percepatan penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium oleh Perum Bulog.

Pemerintah juga memperkuat stabilitas pasokan melalui Gerakan Pangan Murah, Cadangan Beras Pemerintah, dan kerja sama antar daerah.

Di sisi produksi, pemerintah mendorong efisiensi biaya logistik dan menekan risiko imported inflation. Salah satunya melalui penerapan bea masuk 0 persen untuk LPG industri dan suku cadang pesawat, serta rencana kebijakan serupa bagi bahan baku plastik.

Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Surplus tersebut berasal dari kinerja perdagangan nonmigas yang mencapai US$28,54 miliar, meski masih terdapat defisit perdagangan migas sebesar US$21,29 miliar.

Secara bulanan, surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 melonjak menjadi US$3,55 miliar. Angka itu meningkat tajam dibandingkan surplus US$120 juta pada Juli.

Kenaikan tersebut ditopang surplus nonmigas yang meningkat dari US$3,10 miliar menjadi US$6,09 miliar. Pada saat yang sama, defisit migas menyusut dari US$2,98 miliar menjadi US$2,54 miliar.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut penurunan defisit migas sejak Juni berkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan energi, termasuk penerapan program biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026.

Kinerja ekspor nonmigas juga masih ditopang sejumlah komoditas utama. Sepanjang Januari-Agustus 2026, ekspor besi dan baja mencapai US$19,18 miliar atau tumbuh 4,88 persen. Ekspor CPO dan produk turunannya mencapai US$17,75 miliar atau naik 6,57 persen, sedangkan ekspor batu bara mencapai US$16,58 miliar atau tumbuh 4,31 persen.

Ekspor industri pengolahan tumbuh 6,62 persen dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekspor. Pemerintah menilai perkembangan tersebut menunjukkan proses hilirisasi masih berlanjut.

Dari sisi impor, barang bahan baku dan penolong masih mendominasi dengan nilai US$133,38 miliar, disusul barang modal sebesar US$36,74 miliar. Keduanya mencakup sekitar 91,3 persen dari total impor Indonesia.

Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,26 persen serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 22,94 persen juga menunjukkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan barang modal di dalam negeri.

Perkembangan tersebut berjalan beriringan dengan membaiknya aktivitas manufaktur. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2026 naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus.

Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali berada di zona ekspansi. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut perbaikan kondisi bisnis tersebut menjadi yang terkuat sejak Februari 2026.

Penguatan manufaktur didorong oleh kenaikan pesanan baru dan produksi, berlanjutnya pertumbuhan ekspor selama dua bulan berturut-turut, masuknya proyek baru, serta membaiknya daya beli.

Pesanan baru bahkan tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026. Sementara pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Kenaikan aktivitas produksi turut mendorong penyerapan tenaga kerja kembali tumbuh. Perusahaan juga meningkatkan pembelian dan persediaan input. Di sisi lain, tekanan biaya mulai mereda, tercermin dari inflasi harga input dan output yang berada pada level terendah dalam enam bulan.

Keyakinan pelaku usaha terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan juga disebut masih tinggi. Optimisme tersebut didukung peluang penguatan permintaan domestik, ekspor, serta masuknya proyek-proyek baru.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Dia mengatakan, terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

"Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi dan aktivitas industri, serta meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia," ujar Airlangga.

Pemerintah selanjutnya akan mempertahankan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas harga, memperkuat daya beli, serta mendorong investasi dan aktivitas industri.

Dengan inflasi yang masih berada dalam sasaran, surplus perdagangan yang berlanjut, dan PMI manufaktur yang kembali ekspansif, pemerintah melihat sejumlah indikator tersebut sebagai bagian dari perkembangan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

(ory/ory)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK