EDUKASI KEUANGAN

Imbal Hasil Surat Utang AS Tinggi, Surat Utang RI Masih Menarik?

Dela Naufalia Fitriyani | CNN Indonesia
Sabtu, 03 Okt 2026 09:01 WIB
Perencana keuangan menyampaikan hal yang perlu dipertimbangkan saat berinvestasi surat utang RI di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun menembus 5,48 persen pada 24 September 2026, level tertinggi sejak 2004.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah tekanan pasar obligasi global akibat kekhawatiran inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan meningkatnya belanja pemerintah.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian investor di pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia. Di tengah yield obligasi negara maju yang bergerak tinggi, apakah obligasi RI masih menarik untuk dilirik?

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai obligasi RI masih cukup menarik karena menawarkan yield yang kompetitif dibandingkan sejumlah obligasi negara maju.

"Obligasi RI menurut saya masih cukup menarik dan bisa 'melawan' obligasi AS dan Jepang yang sedang dinamis. Hal ini dikarenakan imbal hasil yang ditawarkan masih cukup kompetitif yaitu sekitar 7 persen, masih lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi AS yang berada di kisaran 5,29 persen dan obligasi Jepang yang di kisaran 3,08 persen," ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (2/10).

Menurut Andi, investor tetap perlu menyesuaikan investasi obligasi dengan profil risiko masing-masing. Obligasi lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat, meski investor agresif juga dapat memasukkannya sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.

Untuk investor konservatif atau moderat, Andi menyebut alokasi sekitar 30 persen-50 persen aset dapat ditempatkan pada obligasi. Sementara investor agresif dapat mengalokasikan sekitar 20 persen-30 persen.

Dalam memilih produk, Andi menyarankan investor menyesuaikan tenor obligasi dengan kebutuhan dan strategi investasi.

Dana yang digunakan juga sebaiknya merupakan uang dingin, sehingga kebutuhan keuangan tidak terganggu selama dana tersebut masih diinvestasikan.

"Pastikan dana yang akan kita investasikan memang 'uang dingin', yang artinya selama masa kontrak kita tidak akan kerepotan karena uang tersebut sedang 'diparkir'," ujar Andi.

Andi juga menyebut investor ritel dapat membeli obligasi melalui aplikasi teknologi finansial (fintech) yang menawarkan produk tersebut. Pilihan tenor perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan strategi investasi masing-masing.

Sementara itu, perencana keuangan Mike Rini Sutikno melihat daya tarik obligasi RI dari selisih yield dengan obligasi negara maju.

Menurut Mike, selisih tersebut menciptakan peluang bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi dengan tetap mempertimbangkan risiko.

"Obligasi RI dengan yield saat ini itu 6 (persen) sampai 7 persen deh jadinya lebih menarik kan, lebih tinggi dari yield bond-nya AS. Jadi lebih menarik," ujar Mike.

Mike menjelaskan kondisi tersebut dapat mendorong fenomena flight to yield, yakni perpindahan dana investor ke pasar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan mempertimbangkan risikonya.

Dari sisi valuasi, ia menilai obligasi RI masih kompetitif karena terdapat selisih yield dengan obligasi AS.

Ia juga melihat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS relatif stabil. Namun, investor tetap perlu memperhatikan arah kebijakan The Fed karena perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi aliran dana ke pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kalau obligasi kalau saya lihat sih obligasi RI ya masih cukup menarik untuk dilirik ya terutama untuk investor yang kalau memiliki profil risiko atau kecenderungan atau risk appetite-nya menengah hingga tinggi, lalu time horizon-nya juga jangka panjang nih. Jadi obligasi RI tentunya masih cukup menarik," ujar Mike.

Terkait penambahan porsi, Mike mengatakan keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial masing-masing investor. Investor konservatif, misalnya, secara umum memiliki porsi lebih besar pada instrumen pasar uang dan pendapatan tetap.

Untuk kelompok konservatif, Mike menyebut porsi obligasi dapat berada di kisaran 60 persen-70 persen dari portofolio. Ia menyarankan fokus pada obligasi pemerintah dengan durasi menengah sekitar tiga sampai lima tahun untuk menyeimbangkan yield dan volatilitas.

Investor moderat dapat mempertimbangkan porsi obligasi sekitar 50 persen-60 persen. Komposisinya dapat mencakup obligasi pemerintah dan obligasi korporasi berperingkat investment grade, dengan diversifikasi sektor dan tenor.

Sementara investor agresif memiliki porsi obligasi yang lebih rendah dibandingkan investor konservatif atau moderat. Porsi tersebut tetap dapat disesuaikan dengan kondisi portofolio, termasuk dengan memasukkan obligasi korporasi yang memiliki risiko lebih tinggi.

Mike juga menyarankan pembelian dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus. Investor dapat menggunakan strategi dollar cost averaging dan mencampurkan obligasi dengan tenor berbeda untuk menyesuaikan kebutuhan likuiditas dan tujuan mendapatkan yield.

Dalam memilih obligasi, ia meminta investor tidak hanya melihat besarnya yield. Peringkat kredit, penerbit, sektor, jatuh tempo, durasi, dan likuiditas juga perlu diperiksa.

"Yield tinggi itu biasanya berarti risiko lebih tinggi, ya, itulah trade-off-nya kan. Target yield yang reasonable, ya disesuaikan aja dengan tingkat suku bunga obligasinya pemerintah, obligasi RI saat ini," ujarnya.

Bagi investor pemula, Mike menyarankan mempelajari terlebih dahulu mekanisme obligasi, termasuk kupon, yield, maturity, dan durasi. Dana yang digunakan juga bukan dana darurat.

Investor kemudian dapat memilih broker atau platform yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), membuka rekening dan melakukan verifikasi.

Setelah itu, investor dapat menyeleksi obligasi berdasarkan peringkat, yield, tenor, sektor, penerbit, serta informasi dalam prospektus atau fact sheet.

Setelah membeli, investor perlu memantau kondisi penerbit dan pasar. Jika obligasi ditahan hingga jatuh tempo, pokok investasi akan dikembalikan sesuai ketentuan.

Apabila dijual sebelum jatuh tempo di pasar sekunder, investor perlu memperhitungkan harga pasar serta potensi capital gain atau capital loss.

Dengan demikian, obligasi RI masih dinilai memiliki daya tarik dari sisi yield, tetapi keputusan investasi tetap bergantung pada profil risiko dan tujuan masing-masing investor.

Yield yang tinggi juga perlu dibaca bersama risiko, tenor, kualitas penerbit, likuiditas, serta perubahan kondisi suku bunga global.

(sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK