Kecerdasan Buatan Bisa Picu Inflasi di AS, Kok Bisa?
Ledakan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Amerika Serikat (AS) ternyata bisa menjadi sumber masalah baru bagi perekonomian negara tersebut.
Dilansir CNN, Senin (28/9), belanja besar-besaran untuk membangun infrastruktur AI ternyata berisiko mendorong inflasi lebih tinggi.
Kekhawatiran tersebut muncul karena ekonomi AS saat ini masih tergolong kuat. Tingkat pengangguran berada di 4,1 persen, aktivitas manufaktur pada Agustus menjadi yang tertinggi sejak Juli 2021, sementara penjualan ritel melonjak 1,2 persen.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan teknologi terus menggelontorkan dana dalam jumlah sangat besar untuk membangun pusat data AI, termasuk membeli chip, server, hingga membangun fasilitas pendukung.
Menurut JPMorgan, belanja infrastruktur AI yang mencakup pusat data, chip, dan server diperkirakan mencapai sekitar US$1 triliun atau senilai Rp27.936 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.936 per US$) pada 2026.
Nilainya bahkan diproyeksikan jauh lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
Ekonom Columbia University Stijn Van Nieuwerburgh memperkirakan total belanja infrastruktur AI mencapai US$10,3 triliun atau senilai dengan Rp184.740 triliun hingga 2032.
Investasi tersebut diperkirakan setara dengan 3,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS setiap tahun sepanjang 2025-2032.
Besarnya investasi ini membuat permintaan terhadap berbagai kebutuhan pembangunan pusat data meningkat tajam, mulai dari chip memori dan penyimpanan, material konstruksi, listrik, hingga tenaga kerja seperti pekerja konstruksi, tukang ledeng, dan teknisi listrik.
Namun, pasokan barang dan tenaga kerja tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan.
"Guncangan permintaan menciptakan inflasi," ujar Daniel Yue, pengajar mengenai dampak ekonomi AI di Georgia Tech, seperti dikutip dari CNN.
Sejumlah kendala seperti keterbatasan pasokan, aturan, pengetatan imigrasi, serta proses perizinan turut membuat penyesuaian antara permintaan dan pasokan berjalan lebih lambat.
Dampaknya juga mulai terasa pada kenaikan harga barang dan jasa tertentu serta kekurangan tenaga kerja. Kenaikan biaya pembangunan pusat data juga berpotensi merembet ke sektor ekonomi lainnya.
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan pihaknya mencermati apakah pembangunan pusat data AI mulai menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih besar dari kemampuan ekonomi AS untuk menyerapnya.
Menurut Goolsbee, jika permintaan ekonomi mengalami overheating atau terlalu panas, The Fed perlu merespons dengan menaikkan suku bunga acuannya untuk membantu menekan inflasi.
Namun, suku bunga belum tentu cukup untuk menghentikan investasi AI.
Ekonom Nationwide Oren Klachkin juga mengatakan kenaikan biaya pinjaman memang dapat membuat sejumlah perusahaan mempertimbangkan kembali rencana investasinya.
Namun, investasi AI ini dinilai relatif tidak sensitif terhadap perubahan suku bunga dan kemungkinan belum akan melambat dalam waktu dekat.
Di sisi lain, investasi AI juga tidak otomatis buruk bagi perekonomian. Jika teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas sesuai ekspektasi, peningkatan kapasitas produksi dapat membantu menahan tekanan inflasi dalam jangka panjang.
Permasalahannya adalah, manfaat produktivitas tersebut belum sepenuhnya terealisasi, sementara kebutuhan membangun infrastruktur AI sudah meningkat pesat.
"Semua ini akan menghasilkan transformasi struktural ekonomi AS menjadi ekonomi yang berpusat pada kecerdasan buatan," ujar Kepala Ekonom RSM US Joe Brusuelas.
Dengan demikian, AI menghadirkan tantangan baru bagi AS: investasi yang seharusnya mendorong pertumbuhan ekonomi juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena permintaan tumbuh lebih cepat dibandingkan pasokan.
(lil/sfr)