Harga Minyak Meledak Imbas Serangan Kapal di Selat Hormuz Menggila

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 10:08 WIB
Harga minyak dunia melesat naik lebih dari 1 persen pada Kamis (8/10) imbas serangan ke kepal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz kian meningkat. Ilustrasi. (Foto: Social Media via REUTERS/Social Media)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia melesat naik lebih dari 1 persen pada Kamis (8/10) seiring kekhawatiran berkelanjutan terhadap pasokan dari kawasan produsen minyak utama Timur Tengah.

Kekhawatiran meningkat setelah serangan terhadap kapal di Teluk dan Selat Hormuz semakin sering terjadi.

Harga minyak mentah Brent naik US$1,33 atau 1,33 persen menjadi US$101,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,11 atau 1,26 persen menjadi US$89,39 per barel.

Frekuensi serangan meningkat ketika volume minyak mentah yang keluar dari kawasan Teluk bertambah, tetapi pengirimannya harus dilakukan dengan biaya lebih tinggi dan risiko yang lebih besar terhadap kargo maupun awak kapal.

Dalam serangan terbaru, sebuah kapal tanker di utara Qatar terkena sejumlah proyektil dan menyebabkan korban jiwa, menurut badan United Kingdom Maritime Trade Operations pada Rabu.

"Pada serangan-serangan sebelumnya, kondisi ini menyebabkan penurunan pengiriman dari Teluk Persia. Kali ini, para produsen tampaknya bersedia mengambil risiko kapalnya rusak karena tidak ada jalur alternatif untuk membawa minyak mereka ke pasar internasional," kata Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior di bank ANZ dikutip Reuters.

Kemarin, harga minyak ditutup lebih rendah setelah Badan Energi Internasional (IEA) sepakat mempercepat pelepasan stok minyak dan memprioritaskan pasokan diesel dalam rencana yang diluncurkan pada Maret.

Langkah itu dilakukan pemerintah berbagai negara untuk mengatasi rekor harga bahan bakar dan gangguan pasokan akibat perang Iran.

Hynes mengatakan pelepasan minyak oleh IEA kemungkinan berasal dari minyak yang sudah termasuk dalam rencana pelepasan awal sebanyak 400 juta barel ketika konflik Timur Tengah dimulai. Artinya, langkah tersebut tampaknya bukan tambahan pengurangan stok strategis.

"Pada akhirnya, pelepasan stok strategis dapat menambah pasokan untuk sementara, tetapi tidak menciptakan kapasitas produksi baru," ujarnya.

Ancaman terhadap pengiriman minyak melalui Teluk dan Selat Hormuz meningkat sepanjang Oktober. Sebelum perang, jalur ini menjadi lintasan pengiriman minyak dan bahan bakar yang setara dengan sekitar 20 persen pasokan global.

Serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mencapai titik tertinggi pada pekan lalu dibandingkan pekan mana pun sejak perang Iran dimulai.

Pada saat yang sama, negara-negara produsen di kawasan Teluk meningkatkan ekspor.

Data persediaan minyak AS, negara dengan konsumsi sekaligus produksi minyak terbesar di dunia, turut menopang kenaikan harga. Stok minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan, sementara stok diesel juga sedikit menyusut.

Persediaan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober, menurut data Energy Information Administration (EIA) pada Rabu.

Penurunan itu lebih besar dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters sebesar 1,7 juta barel.

Sementara itu, persediaan bahan bakar distilasi, termasuk diesel dan bahan bakar pesawat, turun 42 ribu barel menjadi 105,14 juta barel. Angka tersebut jauh di bawah level persediaan pada periode yang sama dalam lima tahun terakhir.

(pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK