2 TAHUN PRABOWO-GIBRAN

Taruhan Besar 2 Tahun Prabowo-Gibran Bangun Swasembada Pangan

Laurent Nabila Zahra Tanjung | CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 12:11 WIB
Petani merontokkan bulir padi saat panen di area persawahan di Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (5/9/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat pada bulan Agustus 2025 nilai tukar petani (NTP) Banten sebesar 111,42 atau menga
Pemerintahan Prabowo dan Gibran prioritaskan swasembada pangan dengan peningkatan produksi, penyerapan hasil petani, dan penguatan cadangan pangan nasional. (FOTO:ANTARA/Angga Budhiyanto).

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan mengatakan proyeksi Neraca Pangan Nasional Oktober 2026 menunjukkan sejumlah komoditas strategis, khususnya beras dan jagung, diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan nasional.

Meski demikian, menurutnya, ketahanan pangan tidak cukup diukur dari besarnya produksi atau cadangan yang dimiliki pemerintah.

"Ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari besarnya produksi dan cadangan nasional, tetapi harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui ketersediaan pangan yang merata, harga yang terjangkau, dan peningkatan kesejahteraan petani," kata Hermawan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga, pemerintah menjalankan program SPHP dan bantuan pangan melalui Bulog. Untuk periode Oktober-Desember 2026, pemerintah menyiapkan penyaluran 200 ribu ton beras SPHP. Sementara itu, bantuan pangan beras direncanakan mencapai 997.332 ton untuk penerima manfaat sesuai ketentuan program.

Hermawan mengatakan kebijakan stabilisasi tidak hanya ditentukan berdasarkan besarnya alokasi beras, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan harga serta kondisi pasokan di setiap wilayah.

"Kebijakan stabilisasi dilaksanakan berdasarkan pemantauan neraca pangan, perkembangan harga produsen dan konsumen, serta kondisi pasokan di masing-masing wilayah," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Bapanas memandang BUMN pangan memiliki fungsi yang saling melengkapi. Bulog berperan dalam pengelolaan cadangan pangan pemerintah, penyerapan produksi domestik, serta distribusi SPHP dan bantuan pangan.

Sementara itu, SHS mendukung penyediaan benih, sedangkan ID FOOD menjalankan fungsi rantai pasok melalui kegiatan pengadaan, perdagangan, distribusi, serta kemitraan dengan petani, peternak, dan pelaku usaha pangan.

Namun, pelaksanaan fungsi tersebut menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kapasitas produksi, pembiayaan, modernisasi infrastruktur, efisiensi logistik, tata kelola, serta koordinasi lintas sektor. Tantangan geografis Indonesia juga membuat penyimpanan dan distribusi pangan menjadi faktor penting dalam menjaga pemerataan pasokan.

Bapanas menekankan pengelolaan BUMN pangan perlu dilakukan secara profesional, efisien, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Pada saat yang sama, kebijakan pangan harus menjaga keseimbangan kepentingan petani, pelaku usaha, dan konsumen.

"Prinsip kami jelas: petani harus memperoleh harga yang layak dan menguntungkan, pelaku usaha dapat berkembang secara sehat, dan masyarakat mendapatkan pangan dengan harga yang wajar serta terjangkau," kata Hermawan.

Ke depan, pemerintah akan melanjutkan upaya peningkatan produktivitas, penyerapan produksi domestik, penguatan cadangan, serta efisiensi distribusi. Optimalisasi peran BUMN pangan menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut, dengan tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan usaha petani.

Pengamat pertanian IPB Prima Gandi menilai kebijakan swasembada pangan selama pemerintahan Prabowo menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan pada sejumlah komoditas pokok.

Namun, capaian tersebut perlu dibaca secara lebih luas karena kemampuan memenuhi kebutuhan konsumsi tidak otomatis berarti Indonesia telah mandiri dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

"Secara agregat, strategi dua tahun terakhir menunjukkan lompatan produksi yang sangat signifikan di atas kertas. Pemerintah secara berani menggeser fokus dari ketergantungan impor menjadi kemandirian penuh pada komoditas pangan pokok," ujar Prima.

Berdasarkan data Bapanas 2026 yang dirujuk Prima, delapan komoditas utama diproyeksikan mencapai swasembada, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Total produksinya diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton dengan surplus agregat 4,69 juta ton.

Untuk beras, produksi diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 31,10 juta ton. Dengan demikian, surplus beras diperkirakan mencapai 3,67 juta ton. Di sisi lain, pengadaan beras Bulog yang mencapai 4,13 juta ton hingga 11 Oktober 2026 menunjukkan penguatan kapasitas pemerintah dalam menyerap hasil produksi domestik.

Meski demikian, Prima mengingatkan bahwa indikator swasembada perlu dibedakan berdasarkan tujuan penggunaan komoditas. Pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat dan pakan ternak belum tentu mencukupi kebutuhan industri yang memiliki spesifikasi bahan baku tersendiri.

"Komoditas seperti gula rafinasi, garam industri, dan jagung untuk kebutuhan industri obat atau pemanis masih bergantung pada keran impor," demikian pandangan yang disampaikan Prima.

Ketergantungan tersebut menunjukkan tantangan swasembada tidak berhenti pada peningkatan produksi komoditas pangan pokok. Pemerintah juga perlu memperkuat kapasitas produksi bahan baku industri agar peningkatan produksi pertanian dapat mengurangi ketergantungan impor secara lebih luas.

Dalam konteks itu, Prima menilai BUMN pangan dapat berperan dalam memperkuat ketersediaan input pertanian dan memperpendek rantai pasok. SHS, misalnya, berkontribusi melalui penyediaan benih bersertifikat, sedangkan ID FOOD memiliki fungsi komersial dalam pengadaan dan distribusi pangan, termasuk melalui program Warung Pangan dan kemitraan penyerapan hasil peternak lokal.

Prima juga menyoroti laporan laba bersih ID FOOD sebesar Rp1,34 triliun pada 2025 setelah sebelumnya mengalami kerugian.

Namun, menurut analisisnya, kontribusi komersial ID FOOD terhadap total pasokan pangan masih relatif terbatas dibandingkan pelaku usaha swasta. Karena itu, peran perusahaan tersebut dinilai lebih banyak sebagai penyangga pasokan daripada pemasok dengan volume dominan.

"Meskipun kinerjanya membaik, kontribusi volume pasokan komersial ID FOOD terhadap pemenuhan total pangan nasional masih tergolong minority share dibandingkan pelaku usaha swasta. Peran mereka lebih dominan sebagai stabilisator (market driver) pasang-surut pasokan daripada penentu utama volume distribusi nasional," ungkapnya.

Sejumlah persoalan struktural juga perlu dibenahi, mulai dari keterbatasan likuiditas untuk menyerap hasil panen dalam skala besar, pemanfaatan lahan dan gudang yang belum optimal, hingga kebutuhan modernisasi mesin serta integrasi digitalisasi rantai pasok, termasuk rantai dingin untuk komoditas yang mudah rusak.

Selain itu, koordinasi antarlembaga juga menjadi tantangan karena kebijakan pangan melibatkan Kementerian Pertanian, Bapanas, Bulog, ID FOOD, serta kementerian koordinator yang menangani pangan. Pembagian tugas yang jelas diperlukan agar program penyerapan, distribusi, dan stabilisasi tidak tumpang tindih.

Prima juga menilai dukungan terhadap petani harus mencakup kepastian harga yang sebanding dengan biaya produksi. Peningkatan nilai tukar petani, menurut data yang dirujuknya, belum serta-merta menghilangkan tekanan biaya pupuk, sewa lahan, dan input pertanian lainnya. Karena itu, penetapan HPP perlu mempertimbangkan perkembangan biaya produksi.

Upaya menekan kehilangan hasil panen juga menjadi pekerjaan rumah. Prima memperkirakan kehilangan hasil pascapanen masih berada pada kisaran 10-12 persen. Modernisasi mekanisasi, perbaikan penyimpanan, serta penguatan kelembagaan petani dapat membantu mengurangi kehilangan tersebut.

Di sisi lain, Prima menilai fungsi pelayanan publik dan fungsi komersial BUMN pangan perlu dibedakan secara lebih jelas. Penugasan untuk menyerap hasil panen atau menstabilkan harga membutuhkan dukungan pembiayaan yang memadai agar tidak membebani kegiatan usaha perusahaan. Jika ID FOOD diberi penugasan stabilisasi, pemerintah perlu memastikan dukungan pembiayaan tersedia tepat waktu.

"Pemerintah perlu memberikan kepastian regulasi fiskal kepada ID FOOD. Jika diberikan penugasan stabilisasi harga, harus didukung oleh dana talangan pemerintah yang cepat cair agar tidak mengganggu profitabilitas dan keberlanjutan korporasi dalam jangka panjang," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(lau/ins)

HALAMAN:
1 2