ANALISIS

Ekonomi Vietnam Terus Meroket, Mengapa Indonesia Bisa Tertinggal?

Laurent Nabila ZT | CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 07:35 WIB
Ekonomi Vietnam tumbuh sekitar 8 persen, sementara Indonesia mentok di level 5 persen. Apa yang bikin mesin ekonomi RI melaju lebih lambat dari tetangga? (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertumbuhan ekonomi Vietnam melaju lebih cepat dibandingkan Indonesia, ditopang ekspor manufaktur dan investasi asing yang terintegrasi dengan rantai pasok global. Sementara itu, perekonomian Indonesia masih banyak ditopang konsumsi domestik dan komoditas.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia perlu mempercepat transformasi ekonomi melalui digitalisasi, pengembangan semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI) agar mampu mengejar pertumbuhan Vietnam.

"Kesempatan untuk naik dari lima persen (pertumbuhan ekonomi), kita rata-rata lima persen, kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9 persen, maka kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI," ujar Airlangga dalam BIG Downstream Insights 2026, Selasa (6/10).

Airlangga juga menyoroti perbedaan luas kawasan ekonomi khusus (KEK) kedua negara. Vietnam memiliki sekitar 2 juta hektare KEK, sedangkan Indonesia sekitar 24 ribu hektare.

Lantas, mengapa ekonomi Vietnam mampu tumbuh lebih cepat daripada Indonesia? Apa yang membuat Vietnam lebih menarik bagi investor, dan bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan keunggulannya untuk mengejar ketertinggalan?

Pengamat ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai perbedaan tersebut terlihat dari kemampuan kedua negara mengubah investasi menjadi kapasitas produksi dan ekspor.

"Vietnam mengubah investasi menjadi kapasitas produksi ekspor, sedangkan Indonesia belum cukup kuat mengubah investasi menjadi lompatan manufaktur," kata Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/10).

Menurutnya, Vietnam berhasil menarik investasi asing melalui pengembangan kawasan industri, perjanjian perdagangan, serta relokasi rantai pasok global, terutama di sektor elektronik dan teknologi. Investasi tersebut diarahkan untuk membangun industri yang berorientasi ekspor.

Sebaliknya, besarnya pasar domestik Indonesia membuat sebagian investor lebih berorientasi memenuhi permintaan dalam negeri. Investasi pun banyak mengalir ke sektor jasa, distribusi, properti, keuangan, dan komoditas, tanpa selalu menghasilkan lonjakan ekspor manufaktur.

"Indonesia sulit meniru Vietnam karena keunggulan pasar domestik sering berubah menjadi zona nyaman kebijakan. Investor di Indonesia dapat memperoleh keuntungan dari pasar dalam negeri tanpa harus membangun kapasitas ekspor besar," katanya.

Syafruddin menilai Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala, seperti biaya logistik, ketidakpastian regulasi, perizinan berlapis, serta keterbatasan tenaga kerja terampil dan pemasok lokal.

Ia menilai hilirisasi juga belum cukup jika tidak diikuti penguasaan teknologi dan pengembangan industri pendukung. Vietnam dinilai lebih unggul dalam membangun ekosistem produksi yang terintegrasi sekaligus membuka akses ke pasar internasional.

"Vietnam menjual kepastian eksekusi; Indonesia sering menjual potensi. Dalam investasi, potensi menarik perhatian, kepastian menutup keputusan," ujarnya.

Peluang RI Kejar Ketertinggalan


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :