Cerita KDKMP: Dedikasi Manajer hingga Manfaat Bagi Pedagang Kecil

Kemenko Pangan | CNN Indonesia
Jumat, 16 Okt 2026 17:10 WIB
(Foto: Arsip Kemenko Pangan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Manfaat kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) secara serentak di 10.070 titik mulai diakui masyarakat, baik dari sisi pengelola maupun warga penerima layanan.

Hal ini sejalan dengan instruksi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) dalam peninjauan operasional KDKMP bersama Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, pada Kamis (15/10).

Peninjauan itu dilakukan masing-masing di Bumisari, Natar, Lampung Selatan; Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah; Sonorejo, Kediri; dan Tambakrejo, Sidoarjo, Jawa Timur.

"Koperasi Merah Putih harus memberi manfaat yang langsung dirasakan warga. Harga yang terjangkau dan barang yang mudah diperoleh akan membantu warga desa, petani, termasuk pedagang kecil, sekaligus menggerakkan ekonomi desa," kata Zulhas.

Di Tambakrejo, Sidoarjo, Jawa Timur, KDKMP yang melayani sekitar 16.216 penduduk menyediakan stok kebutuhan pokok, pupuk, dan LPG. Kehadiran koperasi ini membantu pelaku usaha kecil mengakses bahan baku dengan harga lebih terjangkau.

Sumarti, seorang warga Tambakrejo yang sehari-hari berjualan makanan, membenarkan bahwa ada perbedaan harga barang di KDKMP dibanding tempat lain.

"Harga di KDKMP jauh lebih murah, seperti harga grosir, meskipun kami hanya membeli sedikit. Ini sangat menguntungkan pedagang kecil seperti kami," ujar Sumarti.

Antusiasme serupa juga terlihat di KDKMP Sonorejo, Kediri, yang melayani 7.563 penduduk. Koperasi ini mencatatkan tingginya permintaan untuk produk minyak goreng, sabun mandi, dan sabun cuci.

Manajer KDKMP Sonorejo, Keril, menyampaikan bahwa masyarakat setempat telah mengincar barang dagangan koperasi sebelum gerai resmi beroperasi penuh.

"Kalau saya bertemu warga, mereka bertanya-tanya kapan KDKMP buka. Mereka sudah mendengar barang-barangnya dijual dengan harga lebih murah," kata Keril.

Pengelolaan KDKMP di daerah turut melibatkan tenaga profesional muda lokal. Di Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah, KDKMP dipimpin oleh Desi Sari, putri daerah yang bergelar magister.

Ia memilih meninggalkan pekerjaannya di sektor swasta untuk mengelola koperasi yang melayani sekitar 6.700 jiwa tersebut. Di bawah pengelolaannya, KDKMP Sobokerto menyediakan sembako, akses pupuk, serta memasarkan produk UMKM lokal seperti keripik tulang ikan.

"Saya mendapat beasiswa dari negara untuk menempuh pendidikan magister. Sebenarnya, saya sudah bekerja di swasta. Namun, ketika ada kesempatan membangun desa sendiri melalui KDKMP, saya merasa ini menjadi panggilan untuk ikut membangun desa," kata Desi.

KDKMP juga difungsikan sebagai simpul layanan publik dan penyaluran bantuan pemerintah, seperti yang terjadi di Bumisari, Natar, Lampung Selatan.

KDKMP Bumisari yang melayani 8.002 jiwa menyediakan layanan transaksi keuangan, pembayaran listrik, pos, hingga penjualan beras bersubsidi seharga Rp12.500 per kilogram.

Koperasi ini juga disiapkan menjadi titik penyaluran bantuan pangan beras 30 kilogram untuk periode Oktober-Desember 2026, yang bertujuan mendukung ketahanan pangan, terutama bagi kelompok rentan, sekaligus membantu mengantisipasi dampak musim kemarau.

Menko Zulhas menegaskan, pemerintah akan terus memantau operasional KDKMP untuk memastikan pasokan barang dan distribusi tetap berjalan lancar.

"Kami akan terus mengawal kesiapan gerai, kelancaran pasokan, akses pupuk bagi petani, dan pengembangan usaha lokal. Koordinasi dengan kementerian, lembaga, BUMN, dan pemerintah daerah penting agar koperasi dapat beroperasi sesuai kebutuhan masyarakat," pungkas Zulhas.

Hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 23.000 gedung KDKMP telah selesai dibangun dan 28.626 manajer telah direkrut di seluruh Indonesia untuk mendukung operasional distribusi dan layanan ekonomi desa.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK