Menperin Sodorkan Data Bantah RI Deindustrialisasi: Justru Ekspansi
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji membantah Indonesia mengalami deindustrialisasi seperti narasi yang ramai beredar.
"Kinerja industri kita itu tidak seperti yang dinarasikan di luar. Di luar, seolah-olah kita mengalami deindustrialisasi yang sangat mengancam proses industri," ujarnya dalam paparannya di Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) 2026 di Jakarta, Jumat (30/10).
Sarmuji menegaskan industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan kinerja positif, tercermin dari pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang mencapai 5,32 persen pada 2026. Capaian tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen di tahun ini.
Sementara pada 2025, Sarmuji menyebut industri pengolahan tumbuh 5,3 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Lihat Juga : |
"Kalau kita lihat data kita, sektor industri pengolahan non-migas itu tetap menjadi tulang punggung," imbuhnya.
Ia juga mengklaim kondisi tersebut menjadi pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir pertumbuhan industri berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
"Jadi kita lihat bahwa industri kita saat ini tidak mengalami kontraksi, tetapi justru sebenarnya mengalami ekspansi," ucap Sarmuji.
Menurut dia, kinerja industri juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 53,75 pada Oktober 2026. Indeks tersebut kembali berada di zona ekspansi setelah pada bulan sebelumnya berada di level 51,9.
Selain itu, Sarmuji juga meneybut Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2026 juga berada di zona ekspansi dengan level 52,1.
Kemudian, dari sisi penyerapan tenaga kerja, ia menyebut industri pengolahan telah menyerap 19,98 juta orang hingga Mei 2026.
Sementara itu, kontribusi ekspor industri pengolahan pada Agustus 2026 mencapai US$159,55 miliar atau senilai Rp2,89 triliun (dengan asumsi kurs Rp18.144 per US$) atau 82,40 persen dari total ekspor nasional.
Sarmuji menilai besarnya pasar domestik turut menopang ketahanan industri nasional di tengah gejolak ekonomi global. Sebanyak 78,39 persen produk manufaktur nasional diserap oleh pasar dalam negeri.
(lil/pta)