Hari Lajang

Fakta Hari Lajang dari Negara Asalnya

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Selasa, 11/11/2014 15:36 WIB
Fakta Hari Lajang dari Negara Asalnya Ilustrasi perempua lajang (Getty Images/Sky View)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di Tiongkok, ada perayaan anti Hari Valentine, yang disebut dengan Hari Lajang. Hari Lajang telah menjadi perayaan para single fighter di Tiongkok.

Hari lajang dirayakan setiap 11 November, di mana 11/11 diartikan sebagai simbol lajang karena begitu banyak angka satu. Bagi para lajang di Tiongkok, mereka biasanya merayakan hari ini bersama para sahabat yang juga lajang.

Berikut ini lima hal soal Hari Lajang di Tiongkok yang perlu diketahui:


1. Mulanya hanyalah candaan

Awalnya, Hari lajang hanyalah candaan di antara mahasiswa. Namun, candaan ini didahului oleh sebuah protes anti Hari Valentine. Pada tahun 1990-an, mahasiswa dari Universitas Nanjing mengadakan protes pada hari Valentine. Mereka menuntut adanya hari perayaan bagi para lajang.

Seiring dengan meningkatnya jumlah lajang di Tiongkok, perayaan kesendirian ini menjadi sebuah fenomena di Tiongkok. Namun, ternyata banyak yang memanfaatkan hari ini untuk menyatakan cintanya, misalnya dengan memberikan hadiah kepada orang yang dikasihi.

2. Disebut pula Hari Bujang

Perayaan ini awalnya ditujukan bagi para pria yang membujang. Namun, saat ini sudah ada lebih dari 180 juta orang lajang, baik perempuan dan laki-laki, di Tiongkok yang merayakannya setiap tahunnya. Meski begitu, media dan pusat perbelanjaan masih fokus pada laki-laki bujang.

3. Mengapa 11/11?

Perayaan ini dilakukan setiap tahunnya pada 11 November (atau 11/11) karena begitu banyak angka satu di dalamnya. Dalam bahasa Tiongkok, Hari Lajang dikenal dengan ‘Guanggun Jie’ yang merupakan ungkapan slang untuk ‘bujang’. Pada 11/11/11, perayaan ini dikenal dengan nama Super Single's Day dan dirayakan secara besar-besaran.

4. Hari terbesar untuk belanja online

Hari Lajang dimanfaatkan banyak orang untuk belanja. Hal ini terjadi karena memberikan hadian merupakan suatu tradisi dalam perayaan ini sehingga pihak pemasaran benar-benar memanfaatkan momen ini. Menurut Business Insider, pada 2012, penjualan ritel terbesar Tiongkok, Alibabab Group, mencapai lebih dari US$ 3,1 miliar (sekitar Rp 37,7 triliun).

5. Saatnya pesta

Selain belanja dan saling memberikan hadiah, masih ada tradisi lainnya. Mereka biasanya terbagi dalam beberapa kelompok.

Ms. Independent: Mereka makan malam dengan kelompoknya. Setiap orang membayar makanannya masing-masing untuk menunjukkan kemandiriannya.

Lajang yang mencari peruntungan: Hari lajang justru kerap kali dimanfaatkan untuk mencari jodoh. Situs dan perusahaan berlomba-lomba menawarkan pesta kencan buta bagi para lajang yang berniat mencari pasangan hidup. Pada 2011, Shanghai mengorganisasi kencan buta terbesar yang berhasil menaik 10 ribu lajang.

Sarapan untuk satu orang: Para lajang biasanya memakan empat cakwe dan bakpao kukus sebagai simbol 11.11.

Sampai jumpa, singlehood!: Banyak pria yang mengakhiri hidup lajangnya dengan memutuskan melamar pujaan hati atau menikah pada 11/11.