Hidup Sehat

Bakteri Dapat Meningkatkan Autoimun Bayi

Windratie, CNN Indonesia | Kamis, 15/01/2015 14:00 WIB
Bakteri Dapat Meningkatkan Autoimun Bayi Ilustrasi ibu dan anak. (CNNIndonesia/ Pixabay/qazyamyam0)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anda bisa hidup terlalu bersih untuk menjadi sehat. Namun, rupanya paparan terhadap kotoran dan hewan peliharaan di awal pertumbuhan bayi dapat mencegah alergi, asma, dan penyakit autoimun.

Siapa yang tidak khawatir terhadap paparan bakteri e-coli atau penyakit lain? Bahkan, tidak sedikit orang yang membawa gel pembersih tangan di dalam tas kemana pun mereka pergi. Para dokter mengatakan, saat ini tidak selamanya kebersihan harus dikultuskan.

Paparan terhadap kotoran dan juga hewan peliharaan di masa pertumbuhan dapat membangun sistem kekebalan tubuh dan mencegah alergi. Siapa yang menyangka jika merangkak di atas tanah, memegang hewan peliharaan seperti kucing, anjing, atau hewan yang dibesarkan di peternakan dapat memberikan kesehatan jangka panjang pada bayi.


Para dokter menyebut teori yang tidak terlalu bersih tersebut sebagai hygiene hypothesis atau hipotesis kebersihan. Dilansir dari laman WebMD, ketika paparan terhadap parasit, bakteri, dan virus terbatas sejak awal pertumbuhan, anak-anak menghadapi kemungkinan lebih besar terserang alergi, asma, dan penyakit autoimun lainnya saat dewasa.

Hal itu dijelaskan oleh Thomas W. McCade, antropolog biologi yang mengkhususkan diri dalam biologi populasi manusia di Northwestern University.

“Sama seperti otak bayi yang memerlukan stimulasi, masukan, dan interaksi untuk berkembang secara normal, sistem kekebalan tubuh pada bayi diperkuat oleh paparan kuman sehari-hari, sehingga bakteri belajar, beradaptasi, dan mengatur diri sendiri,” kata McCade.

Studi lainnya melakukan pengamatan pada 467 bayi di Baltimore, Boston, New York, dan Saint Louis sejak bayi masih dalam rahim ibu. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang terpajan bakteri rumah tangga dan alergen dari tikus, kecoak, dan kucing dalam tahun pertama usia mereka mengalami sesak dan asma lebih kecil.  

Temuan tersebut mengejutkan banyak orang karena penelitian sebelumnya menemukan yang sebaliknya. “Apa yang kami temukan agak mengejutkan dan bertentangan dengan prediksi awal kami,” ujar Robert Wood, kepada Divisi Alergi dan Imunologi di Johns Hopkins Children Center di Baltimore.

Penelitian itu menempatkan kotoran sebagai hal yang lebih menarik. “Sekitar 41 persen anak-anak yang bebas alergi dan sesak dalam studi tersebut dibesarkan di rumah yang kaya akan alergen dan bakteri. Sebaliknya, hanya 8 persen dari anak-anak yang terpapar bakteri menderita alergi dan sesak pada tahun pertama kehidupan mereka.”


(win/utw)